Laman

Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

27 Oktober 2011

Membicarakan Kepariwisataan di Jakarta


Setinggi-tinggi terbang bangau, kembalinya ke kubangan jua. Sejauh-jauh merantau, kampung halaman terbayang jua Sejauh-jauh merantau, adat Minang tetap digungguang dibaok tabang.Kecintaan perantau Kabupaten Solok di Jakarta kepada kampung halaman mereka ditunjukkan dengan kepedulian yang tinggi kepada negeri asal dan adat-budayanya. Aura kebudayaan dan primordial itu menggejala di Audotorium Bank Bukopin Jalan MT. Haryono Jakarta Selatan, saat dimana Ikatan Kekeluarga Kabupaten Solok (IKKS), Minggu (16/10), mengadakan halalbihalal yang dihadiri oleh Bupati Solok Syamsu Rahim.
Nuansa Minangkabau begitu kental, lebih menjelaskan atmosfir Kabupaten Solok ketika undangan disambut dengan tari pasambahan, siriah di carano.Momentum ini, setidaknya bagi IKKS lebih memberi makna bahwa, meski tinggal di rantau, warga Kabupaten Solok masih peduli dengan perkembangan dan selalu mengikuti setiap informasi dari kampung. Tersebab alasan itu, maka halal bihalal IKKS Jabotabek disisipi tema; semarak wisata Kabupaten solok menuju visit Indonesia Years 2012.
Hahal bi halal ikatan keluarga perantau itu untuk pertama kalinya pula mengurai masalah program pembangunan di Kabupaten solok, khususnya memperbincangkan prosfek kepariwisataan di daerah penghasil markisa itu, serta merta memotivasi Syamsu Rahim untuk mengekspose visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Solok terpilih.
Diantara deretan tokoh perantau itu sendiri, seperti Firdaus Oemar yang juga ketua IKKS, Marwan Paris Dt. Maruhun Saripado sekaligus sebagai ketua Solok Saiyo Sakato (S3), ketua DPP SAS, juga terlihat hadir Bupati Dharmasraya Ir. Adi Gunawan, Walikota Solok diwakili Sekda Suryadi Nurdal, SH, Ketua DPRD Kabupaten dan Kota Solok Syafri Dt. Siri Marajo dan Yustris Chan, SE, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kab. Solok Drs. jasman, MM.
Bupati Solok Syamsu Rahim dalam suarangan itu menyebutkan bahwa potensi daerah yang dipimpinnya sangat besar dalam banyak sektor. Terutama dari aspek Sumber Daya Alam dan sektor Kepariwisataa. Hanya saja persoalan selama ini potensi tersebut belum dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sehingga belum membawa manfaat terhadap perkembangan daerah dan masyarakat sendiri. “ Karena alasan itu, dalam penataan pembangunan 5 tahun ke depan, kita lebih mengedepankan visi menata kepemerintahan yang baik untuk mencapai kesejahteraan, “ sebut Syamsu Rahim.
Ada delapan misi untuk mencapai cita-cita tersebut, yang kelak akan dikerjakan secara terencana dan terintegrasi. Masalah pengembangan Kepariwisataan dalam kaitan itu termasuk diantara 8 prioritas pembangunan ke depan.


Banyak nagari di kabupaten solok, menurut Syamsu Rahim memiliki potensi yang berbeda. Semua itu belum tersentuh oleh tekhnologi lantaran banyak anak nagari yang meninggalkan kampung akibat merantau. Padahal filosofi karatau madang diuhulu, babuah baungo balun yang menggambarkan keinginan merantau karena dikampung berguna, itu sepenuhnya tidak benar kalau dikaitkan dengan kondisi kekinian masyarakat Kabupaten solok. “ Akibatnya banyak nagari-nagari yang tidak berkembang, karena semuanya merantau dan kemudian orang kampung menungguh hasil kiriman dari rantau, “ tutur Syamsu Rahim.
Atas fenomena itu pula, Bupati Solok kemudian dengan nada berkelakar menyatakan bahwa pemikiran merantau yang pernah di tulis Muchtar Naim dulu seharusnya ditinjau ulang agar masyarakat tidak meninggalkan kampung halamannya yang terlantar.
Banyak contoh nagari yang terlantar akibat merantau. seperti di nagari Siaro Aro, kecamatan IX Koto Sei Lasi. Akibat banyak ditinggal oleh warganya, sekitar 50 persen dari lahan produktif di nagari itu tidak tergarap.
Pula, Di bidang pariwisata demikian kenyataannya. Objek-objek kepariwisataan kabupaten solok yang menawan itu belum sepenuhnya bisa tergarap karena merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan padat modal. Untuk mengembangkannya perlu sentuhan investor. Sektor kepariwisataan ini, setidaknya sejajar dengan potensi sumber daya alam yang terkandung di kawasan danau Singkarak.
“ Kalau semua potensi itu bisa dimaksimalkan, Kabuapten Solok merupakan daerah kaya. Kita memiliki block Singkarak yang banyak menyimpan Gas dan kemungkinan juga minyak, sumber air panas yang berpotensi untuk pengembangan geoternal, serta bahan tambang lainnya, seperti emas dan biji besi serta batu hijau “ sebut Syamsu Rahim sembari menggugah perantau yang berhasil agar ikut menanamkan investasinya di kampung halaman.
Halah bihalal yang berlangsung penuh kekerabatan itu juga ditingkahi dengan dialog interaktif yang dipimpin oleh DR. Lukman, M.Si. Putra nagari Paninggahan, kecamatan Junjung Sirih yang juga Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebutkan potensi kabupaten Solok memiliki banyak pekuang usaha yang membutuhkan keberanian untuk berinvestasi sebagai bentuk kecintaan perantau kepada Kampung halaman sendiri. Oleh karena itu, ia sangat respek terhadap upaya pemkab. Solok dalam pengembangan kepariwisataan untuk mencapai kesejahteraan.
Dukung MTQ Dharmasraya
Kehadiran Bupati Dharmasraya dalam pertemuan perantau Kabupaten Solok di Jakarta tentu pula bukan sesuatu yang membingungkan, karena secara histories dan Kultural Ir adi Gunaman, MM memiliki hubungan emosional yang tinggi dengan daerah penghasil beras itu. “ Saya memang lahir dan dibesarkan di Gunung Medan, tetapi kedua orang tua saya berasal dari Paninjauan (ibu) dan nagari aripan (bapak). Karena alasan itu saya bangga diundang dalam pertemuan perantau Kabupaten Solok ini, “ tutur Adi Gunawan.
Sebagai bagian dari perantau Kabupaten solok, Bupati Dharmasraya itu lantas meminta dukungan terhadap pelaksanaan helat akbar keagamaan tingkat Sumatera Barat yang dilaksanakan tanggal 21-27 November 2011.
“ Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Sumatera Barat akan di Kabupaten Dharmasraya, diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp14 miliar. Karena kita disana akan melaksanakan iven keagamaan bagi masyarakat sumatera Bagian Tengah, “ terang Adi Gunawan sembari membuka peluang bagi perantau Kabupaten Solok untuk membuka stand pameran di arena MTQ tersebut.
Ketua IKKS Firdaus Oemar maupun Bupati Solok Syamsu Rahim serta merta menyatakan dukungan atas pelaksanaan MTQ di dharmasraya tersebut. Syamsu rahim bahkan menyatakan keberhasilan MTQ itu sendiri secara moral lebih merupakan kesuksesan masyarakat dan daerah Kabupaten Solok sendiri.-

07 Maret 2011


Kab.Solok Inginkan Tour De Singkarak Setara  Tour De Langkawi

Solok--Pemerintah Kabupaten Ssolok benar-benar ingin mengambil manfaat  ganda dari penyelenggaraan balap sepeda Internasional Tour de Singkarak  yang dijadwalkan berlangsung  tanggal 6 sampai 12 Juni 2011. Selain untukmenggairahkan dunia pariwisata dan olahraga balap sepeda sekaligus, paling tidak ajang olahraga bernuansa wisata itu dapat mengangkat daerah penghasil beras yang juga dikenal sebagai bumi markisa itu ke dunia International.
“ Ini ajang promosi yang sangat besar, rugi kita kalau tidak memanfaatkannya dengan maksimal. Karena itu, kita tidak ingin lagi menyambut acara Tour De Singkarak seperti yang sudah-sudah, yang kesannya hanya sekedar mambayie hutang, atau sebatas menjalankan agenda pemerintah pusat, “ kata Bupati Solok Syamsu Rahim ketika membuka rapat pembentukan panitia lokal yang di inisiasi oleh dinas pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten solok, Senin (7/3) di Arosuka.

Syamsu Rahim sampai begitu galigaman terhadap ajang balap sepeda itu lantaran melihat kenyataan bahwa Malaysia terkenal justru karena lebih oleh faktor promosi balap sepeda Tour De Langkawi. Atas pengalaman negeri Jiran itu, ketika Pemerintah Pusat telah menjadikan Tour De Singkarak sebagai kalender kegiatan kepariwisataan Indonedia, mestinya Kabuoaten solok bisa memaksimalkan promosi wisata dan segala keunggulan daerah ini.

“ Untukmencapai semua itu, kita ingin memformulasikan ivent balapsepeda Tour De Singkarak dengan kegiatan Festival Danau Kembar,” tutur Syamsu Rahim.
Inspirasi menjadikan Festival Danau Kembar untuk keramaian alek menyusul pembicaraan Bupati Solok syamsu Rahim di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta. Bersama Kepala dinas Pariwisata Kabupaten Solok Drs. Jasman, MM, sebut Syamsu Rahim, pihaknya bahkan menjanjaikan bonus khusus untuk pemenang Tour De Singkarak.
“ Kita telah menjajanjikan pemberian bonus untuk para juara balap, “ kata Bupati Solok.

Syamsu Rahim menyebutkan, dari hasil pertemuan di Kemenbudpar di Jakarta, kegiatan balap sepeda Tour De Singkarak bakal dikembangkan menjadi 7 Etape dan melalui 12 daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Khsusus etape terakhir, kosentrasi pembalab akan berada diwilayah Kabupaten Solok.

“ Kita maunya Tour de Singkarak setaraf dengan Tour De Langkawi di Malaysia. Salah satu syarat untuk itu harus melewati jalur balap sepanjang 2000 KM. Karena alasan itu, untuk Kabupaten Solok telah disepakati penambahan route dan serta finisnya dua kali, di Singkarak dan finish di Convention Hall Danau Diatas, “ papar Syamsu Rahim penuh optimistis.

Menyikapi pertambahan route itu, Bupati Solok selain mengharapkan pembentukan panitia lokal yang permanent, termasuk persiapan penyelenggaraan Festival Danau Kembar, pihak Dinas Pariwisata kabupaten Solok serta merta diinstruksikan melakukan survey jalan yang akan dilalui pembalab bersama instansi terkait, seperti Dinas PU, Polres dan Dinas Perhubungan Kabuapten Solok.
“ Jalur baru yang akan dileawati adalah wilayah Kapuak Sumani, terus ke Aripan, Laing, Panyakalan, terus ke Kubang Duo dan berakhir di Konvention Hall. Itu semua perlu persiapan matang, “ kata Bupati Solok.

Pembentukan Panitia Tour De Singkarak tingkat kabupaten solok itu  Dandim 0309 Solok, Asisten II H. Yunasman, SE, M.Si, Kepala Dinas Perhubungan Edisar SH, M,MH,  jajaran Kepolsian Kabupaten dan Kota Solok serta sejumlah kepala SKPD, Camat dan sejumlah organisasi Kepemudaan.

Menyambung harapan Bupati Solok, Kepala dinas Pariwisata Kabupaten solok Drs. Jasman MM meyakini ajang balap sepeda Internasional akan memberi pengaruh besar terhadap dunia kepariwsataan di Kabupaten Solok.Terlebih adanya komitmen untuk mensinergikan iven tersebut dengan festival danau kembar, semua keunggulan daerah Kabupaten Solok akan dikenal ke manca negara.
“ Kita harus menampilkan apa yang menjadi keunggulan daerah ini, seperti halnya Pariaman yang bakal mempersebahkan oyak Tabuik, serta Batu Sangkar dengan tradisi makannan Tradisional, “ papar Jasman ketika memimpin pembentukan Panitia Tour De Singkarak*****

14 Februari 2011


Kabupaten Solok Bakal Dapat Program PNPM Bidang Pariwisata

Untuk pertama kali dalam sejarah kepariwisataan, kabupaten Solok tahun 2011 ini dipastikan bakal menerima dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Bidang Pariwisata dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia .
“ Alhamdulillah, berkat komunikasi yang kita kembangkan di Jakarta dan memberikan informasi tentang potensi kepariwisataan Kabupaten Solok, kita bakal dialokasikan dana PNPM Mandiri Bidang Pariwisata tahun 2011 ini, “ kata Drs, Jasman, MM, kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok di ruang kerjanya, Jum’at (11/2).

Disebutkan Jasman, Program tersebut efektif untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya masyarakat yang berada di lingkungan objek wisata. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata itu sendiri  dimotori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar).
"Program PNPM Mandiri ini tentulah dalam usaha meningkatkan potensi bidang kepariwisataan, khususnya peningkatan sumber daya manusia (SDM). Kita berharap program ini serta merta akan menggugah kesa-daran pariwisata rakyat,” sebut Jasman.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok itu menyebutkan daerah penghasil beras itu memiliki banyak objek wisata potensial. Tidak hanya kekayaan alam dengan panorama danaunya yang mengyejukkan, potensi wusata sejarah dan budaya merupakan harmonisasi keindahan yang menyediakan banyak pilihan.
Dengan potensi tersebut, PNPM Mandiri Bidang Pariwisata dialokasikan kepada kelompok kerja yang dinilai cukup kreatif mengembangkan potensi SDM kelompok mereka, dalam bidang usaha dan peningkatan kepariwisataan.

“ Untuk tahun 2011 ini, nagari yang mendapat prioritas menerima bantuan ini adalah nagari Batu Bajanjang, kecamatan Lembang Jaya, “ ulas Kadis Pariwisata dan kebudayaan Kab. Solok itu sumringah.
Bukan sesuatu yang mewngherankan kalau nagari Batu Bajanjang mendapatkan dana PNPM Bidang Pariwisata. Nagari yang berada di kaki gunung Talang tersebut sejatinya juga menyimpan objek wisata alam dan pergunungan yang menakjubkan. Bahkan ketika pengunjung wisata hendak melakukan kegiatan pendakian gunung Talang, justru pintu masuk sebelum naik  gunung Talang itu justru dari kawasan nagari Batu bajanjang tewrsebut.

Belum tahu benar nilai nominal yang akan diterima oleh Kabupaten Solok, tetapi menurut Jasman, PNPM ini sendiri diyakini cukup membantu untuk menunjang kepariwisataan dan peningkatan SDM kelompok usaha mandiri masyarakat yang seharusnya terus berkembang.

Kelak, disamping pendampingan dilakukan oleh fasilitator yang telah ditenjuk langsung untuk pengembangan PNPM Mandiri Bidang Pariwisata itu, pihaknya sendiri akan rutin melakukan pengawasan dan pembinaan kepada kelompok-kelompok penerima bantuan .

“ Kabupaten Solok baru tahun 2011 ini menerima bantuan PNPM Mandiri Bidang Pariwisata dank arena itu harus kita jaga agar mencapai sasaran. Bantuan ini sejatinya amanah dan tentunya masyarakat dihimbau agar mampu memanfaatkan am,anah ini supaya nanti lebih dipercaya menjalankan program-program serupa, “ tambah Jasman menyudahi.***

29 Januari 2011


Pesona Danau Singkarak Pukau Turis Exxon Mobile

Keindahan alam Kabupaten Solok memang mempesona. Hal itu sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Buktinya setelah mampu menyedot kekaguman sekitar seratusan orang  turis Amerika yang diangkut kapal pesiar Odessey,  kini giliran rombongan turis dari Exxon Mobile berikut sejumlah pejabat dan staf kedutaan Amerika Serikat di Jakarta dipukau oleh  keindahan dan pesona Danau Singkarak.

Kehadiran rombongan pelancong dari Exxon Mobile itu di sambut di rumah gadang kaum Datuk Malelo Rajo di Nagari Paninggahan, Rabu (27/1). Praktis Rumah gadang  mantan anggota MPR RI, Mukhtar Bina Datuk Malelo Rajo yang penuh berukiran khas Minangkabau dan berdiri anggun di pinggir Danau Singkarak sebelah Selatan  ini juga mengundang decak kagum seluruh rombongan.

Terhadap kesan para turis itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, Drs. Jasman usai menerima rombongan mangaku puas karena telah mampu memperlihatkan segala keunikaan dan pesona alami. Dari fenomena itu Jasman bahkan mengaku bahkan momentum itu merupakan era kebangkitan kepariwisataan Kabupaten Solok.
“ Dengan menfasilitasi kunjungan sejumlah turis mancanegara ini, diharapkan wisata Kabupaten Solok dapat lebih dikenal ke dunia internasional, “ aku Jasman.

Ia sekaligus menyatakan komitmennya untuk mengupayakan terus  kunjungan wisata dari luar negeri sebagai upaya mempromosikan objek-objek wisata Kabupaten Solok di mancanegara. “ Dengan merasakan kenyamanan dan kepuasan di Kabupaten Solok, tentunya suasana ituakan mereka perbincangkan di negara asalnya dan secara tidak langsung mereka ikut mempromosikan potensi wisata Kabupaten Solok dengan segala aktivitas budayanya yang khas, “ ujarnya.

Dikatakan, Kabupaten Solok menyimpan sejumlah objek wisata yang unik dan beragam, mulai dari wisata agro, wisata olahraga, agama, adat dan seni budaya, serta wisata alam yang luarbiasa besar. Kesemuanya itu masih alami. “Saat ini ada kejenuhan sejumlah wisatawan terhadap wisata-wisata yang pada umumnya ada disejumlah wilayah, seperti pantai dan wisata modern. Kecenderungan saat ini adalah wisata budaya dan alam yang natural, dan hal itu tersimpan di Kabupaten Solok”, kata Jasman menyudahi.-

24 Januari 2011

Masyarakat Paninggahan Sambut Rombongan  Exxon Mobil Amerika Dengan  Prosesi membuat Onde-Onde
 
PANINGGAHAN--Setelah sukses menjamu rombongan kapal pesiar Amerika yag mengangkut seratusan wisatawan mancanegara, Kabupaten Solok kembali  menjadi destinasi wisata bagi turis dari benua Paman Sam. Kehadiran turis dari Exxon Mobile Amerika itu,menurut Kepala  Dinas Pariwisata setempat Drs. jasman, MM berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (26-27/1).
“ Mereka kita bawa ke nagari Panianggahan, Kecamatan Junjung Sirih dan menginap di rumah gadang setempat, “ tutur jasman selepas melakukan rapat persiapan penyambutan Turis Exxon Mobile di kantor wali nagari Paninggahan, Senin (24).
Jasman menyebutkan, pihaknya berusahan semaksimal mungkin menyambut kunjungan-kunjungan wisatawan mancanegara sebagai wahana promosi pariwisata Kabupaten Solok ke dunia luar. Ia menilai kunjungan seperti rombongan kapal pesiar The Odessey tempo hari setidaknya menjadikan budaya dan objek wisata kabupaten Solok memberikan kesan tersendiri bagi pelancong tersebut.
“ Bahkan khabarnya selama dalam perjalanan mereka cenderung membicarakan kekayaan budaya kita. Informasi itu kita peroleh dari juru bicara rombongan turis itu, “ tutur Jasman.
Karena alasan itu, Jasman optimistis kepariwisataan Kabupaten Solok akan berkembang dan dikenal oleh pelancong dari mancanegara.” Selama enam bulan atau setahun ke depan, kita harus mempromosikan potensi wisata Kabuapten Solok, “ tambahnya.
Sebelumnya, rapat persiapan penyambutan rombongan turis Exxon Mobile yang berlangsung di kantor Wali Nagari Paninggahan terlihat antusias. dipimpin Wali Nagari Paninggahan Jasman S.Ag, peserta rapat yang terdiri dari pemuka masyarakat, ketua BMN, Bundo Kandung, Tokoh Pemuda, memberi kesan bahwa nagari Paninggahan siap mempersembahkan kekayaan budaya berikut segala aktivitas dan kultur masyarakat setempat. Rapat persiapan penyambutan turis mancanegara itu juga diikuti oleh Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Solok Erizal, SE, MM.
“ Kita  berupaya menjual kepariwisataan kabupaten solok dari aspek kultur dan budayanya, “ tutur Erzal yang notabene juga ketua KAN Singkarak itu.
Wali Nagari Paninggahan Jasman menyebutkan serangkaian kegiatan masyarakat akan diperkenalkan kepada para turis Exxon Mobile. Mereka selain disuguhkan makanan khas Paninggahaan seperti lapek Bugih, Onde-Onde serta goreng bilih, kepada para pelancong juga akan diperlihatkan proses pembuatan onde-onde itu sendir.
“ Itu pasti menarik, karena mereka pasti bingung melihat ada gula didalam onde-onde. Mereka berpikir dari mana memasukkan gula itu, padahalonde-onde tidak berlobang, “ ujar Wali nagari sambil tersenyum
Atraksi lain yang akan dipersembahkan adalah proses baralek serta kesenian tradisi seperi  tari piring diatas kaca,  menonton beruk mengambilkelapa dan membajak sawah. Pada Kamis pagi hari, selepas sarapan lontong, turis itu juga dibawa ke objek wisata Muaro untuk menyaksikan proses penangkapan ikan bilih yang menjadi keseharian masyarakat setempat.
“ Banyak keuinikan yang akan kita tonjolkan, termausk membawa turis ke mato aie Paninggahan yang menyimpan legenda pula, “ kata Wali Nagari setempat.

06 Desember 2010

TRHK Arosuka Magnit Kepariwisataan Kab. Solok

KETIKA banyak daerah seperti berpacu mencari jatidiri dengan membangun fasilitas rekreasi sebagai land-mark sebuah kota, Pemerintah kabupaten Solok justru berpikiran lain tentang tata pengembangan kota Arosuka. Bahkan ketika banyak kota seperti terpancing membangun fasilitas pemandian dan rekreasi sekaligus, sperti water boom di kota Padang Panjang, Sawahlunto dan bahkan Solok Selatan, Kabupaten Solok yang memiliki kekayaan alam kemudian seperti berjalan di jalur yang lain untuk menunjang sector kepariwisataan, yakni dengan membangun Taman Raya Hutan Kota. Dengan mencadangkan lahan seluas 10 hektar, dengan obsesi menjadikan kota Arosuka sebagai pusat pemerintahan sekaligus menjadi tujuan rekreasi utama bagi wisatawan, tahun 2009 mulai diprogramkan lahan terbuka hijau sekaligus taman rekreasi diareal kebun kulit manis (casiavera) di Sukarami. Kelak diharapkan alih fungsi lahan kebun itu menjadi taman dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk berolahraga dan berekreasi di hari libur. “ Dengan pergantian kepemimpinan ini, kita mengharapkan program Taman Hutan Raya Kota Arosuka ini dapat dilanjutkan penyelesaiannya dalam 2 tahun ke depan , “ kata Kepala Dinas PU Kab. Solok Ir. Fathol Bahri Eng di kantornya, Senin (27/9). Kondisi terakhir pembangunan Taman Raya Hutan Kota (TRHK) Arosuka telah semakin membuka mata orang-orang yang melintasi jalur Solok –Padang. Perubahan yang signifikan terlihat pada bagian gerbang TRHK dengan arsitektur bagonjong yang dipadu dengan warna cat biru laut dan kuning. Sementara di bagian depan dan samping gerbang tertata lahan untuk areal parkir. Dilokasi itu kini juga telah disiapkan fasilitas wc umum sebanyak 2 unit. Menusuk pandangan ke lebih ke dalam, kerangka objek TRHK kian jelas bentuknya diantara potongan badan jalan yang bertumpu pada bundaran air mancur. “ Sampai kondisi sekarang ini telah menelan biaya sebesar Rp 5 miliar dari estimasi biaya keseluruhan sebesar Rp 34 Miliar, “ papar Fathol yang diserahi tanggung jawab membangun TRHK Arosuka sampai kelar. Perbaikan kualitas alam dan lingkungan hidup Kota Arosuka harusnya disisasati sejak awal. Program TRHK justru arahnya untuk melestarikan ekosistim di pusat pemerintahan Kabupaten solok, sehingga nanti ketika kota Arosuka benar-benar sudah kian berkembang, pemerintah tidak kelimpungan terhadap pertumbuhan pembangunan kota yang diyakini beriringan dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi Dikatakan Fathol, penguatan lahan kebun kulit manis menjadi TRHK merupakan upaya percepatan agar kawasan Arosuka. Disamping mampu memerankan fungsi sebagai penyangga konservasi, dapat mengoptimalkan pengembangan kawasan pusat pemerintahan dan pusat perkotaan baru. Karena itu Perubahan kawasan ini, benar-benar diprogramkan berwawasan lingkungan. Kepala Dinas PU Kab. Solok ini menyebutkan banyak fasilitas yang bakal menyempurnakan lokasi rekareasi di TRHK Arosuka itu nantinya. Selain pembangunan areal camping groud, juga dibangun core centre serta kolam air panas, permainan anak-anak dan bahkan out bond. Lokasi TRHK juga akan dilengkapi dengan suasana perkampungan yang alami mengingat kecendrungan orang yang ingin kembali ke alam (Back to nature). Karena alas an itu, dalam master pland TRHK Arosuka juga dilengkapi dengan kolam pancing, persawahan kegiatan tradisional serta gedung promosi menjual cendramata, gedung pertemuan dan sejumlah kopel atau gazebo untuk menikmati suasana santai. P embangunan TRHK tersebut, kata Fathol memanfaatkan dana ABPD hingga tahun 2013, karena itu penyelesaiannya dilakukan secara bertahap. “ Kita berharap dalam 3 atau 4 tahun ke depan TRHK Arosuka telah rampung dan dapat diopersionalkan sebagai tempat rekreasi terkemuka di Sumatewra barat, “ papar Kadis PU Kab. Solok itu seraya memastikan kelepangkapan fasilitas TRHK akan menjadi magnit bagi kepariwisataan kabupaten Solok***

17 September 2008

Air Panas Bukik Kili

Kolam pemandian Sekaligus Tempat Pengobatan Alternatif

Fungsi air pada bangunan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan karena itu banyak cara untuk memanifestasikan kedua wujud tersebut. Terlebih pada bangunan suci, keberadaan air memiliki peran yang penting dan keduanya menyatu secara utuh.

Realitas demikian membuktikan bahwa unsur air pada bangunan suci,seperti mesjid, bukanlah suatu kebetulan atau sesuatu yang tidak di sengaja, melainkan oleh ummatnya secara sadar memang dihadirkan disekitar bangunan yang disucikan. Di mesjid-mesjid di daerah kita (Sumatera Barat) bahkan kebanyakan pengadaan air merupakan sesuatu yang essensial karena mampu memberi manfaat yang dinamik pada dekorasi arsitektur masjid.

Namun berbeda, bahkan bisa dikatakan unik, karena keberadaan air di mesjid Al-Ihwan Bukik Kili, nagari Koto Baru, Kabupaten Solok, air dimanifestasikan dalam bentuk kolam pemandian umum, masing-masing berukuran sekitar 25 X25 meter, karena antara kolam pemandian perempuan dan kaum laki-laki terpisah oleh bangunan permanen.

Satu illustrasi alam hadir disitu karena sumber airnya yang konon berasal dari perut Gunung Talang, sehingga air yang muncul dengan debet yang relatif besar memiliki kadar belerang yang dominan, sehingga suhu air menjadi panas.

Tersebab oleh realitas alam tersebut, nagari Koto Baru kemudian seolah mendapat berkah, karena di jorong Bukik Kili terdapat sebuah tempat pemandian air panas yang memiliki fungsi ganda; untuk mensucikan diri bagi ummat yang beribadah di mesjid Al-ikhwan dan bahkan sebagai pengobatan alami bagi mereka yang mengalami penyakit tulang dan penyakit kulit.

Pengobatan Alternatif

Tidak ada catatan khusus tentang asal muasal aie angek Bukik Kili. Juga tidak terdapat keterangan resmi soal kadar belerang yang terkandung dalam air panas tersebut, apalagi keterangan soal manfaat mandi di air panas tersebut..

Tetapi faktor budaya telah memberi kepercayaan kepada kebanyakan orang untuk selalu datang ke pemandian air panas Bukik Kili bukan sekedar untuk mandi, tetapi sekaligus sebagai usaha pengobatan alternatif secara alamiah. Terutama mereka yang telah berusia lanjut, adakalanya menginap di lokasi pemandian untuk terapi kelumpuhan, serta untuk pengobatan penyakit kulit.

Sebagai suatu tempat pemandian yang banyak menarik minat pengunjung, Air Panas Bukik Kili serta merta menjadi bagian dari sekian objek wisata di Kabupaten Solok. Hal itu lebih membuktikan bahwa kekuatan kepariwisataan daerah penghasil beras itu adalah pada kekayaan alam yang terdiri dari pergunungan, danau dan budaya.

Sangat mudah untuk mengetahui dimana lokasi pemandian air hangat dimaksud. Bahkan Bukik Kili di nagari Koto Baru mempunyai akses dari berbagai arah perjalanan, termasuk transportasi yang tersedia sangat gampang memperolehanya.

Air hangat Bukik Kili, berada di nagari Koto Baru, kecamatan Kubung,Kabupaten Solok. Dari koto Solok cuma berjarak sekitar 7 Km dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Sedangkan pengunjung yang datang dari arah kota Padang, pada Km 53 Km selepas nagari Cupak, di sebelah kanan lintas Padang Solok, anda bakal menemukan sebuah tugu bertuliskan nama mesjid Al-Ikhwan, berikut lokasi pemandian Air Panas Bukit Kili.

Sekitar 20 meter dari pinggir jalan raya, sebuah lokasi pemandian yang representatif dengan suhu airnya yang nyaris tak pernah turun bakal menghantarkan kita ke pesona alam yang sulit mencari tandingannya di kawasan Sumatera.

Untuk memasuki lokasi pemandian tersebut, tentu dengan membayar retribusi terlebih dahulu. “ Pengunjung memang dibebankan membayar retribusi sebesar Rp 500 perorang. Sebgai pengganti uang kebersihan,”ujar Damsiwar, salah seorang penjaga pintu masuk lokasi pemandian air hangat Bukit Kili.

Lelaki paroh baya yang cukup simpatik tersebut menyampaikan, besaran pungutan ke objek pamandian air panas sudah merupakan kesepakatan pemerintah nagari Koto Baru yang dituangkan dalam Peraturan Nagari (Perna) No.4 tahun 2002.

Damsiwar tidak tahu berapa persentase dari jumlah uang retribusi yang masuk perhari untuk pemerintah nagari dan berapa pembagian untuk mesjid Al-Ikhwan itu sendiri.. Namun yang pasti, rata-rata jumlah pengujung saban hari berkisar antara 100 sampai 150 orang .

“ Kebanyakan yang datang hari Sabtu dan Minggu. Pengunjung yang meramaikan pemandian Bukik Kili juga banyak dari daerah-daerah lain di Sumatera Barat, sepertii Payakumbuh, Bukittinggi dan Batusangkar bagai,” jelas Damsiwar seraya menyebutkan nilai nominal pemasukaan Keuangan setiap minggu hampir mencapai angka Rp 600.000.

Objek pemandian air panas Bukik Kili tidak hanya diperuntukkan buat kaum laki-laki. Kolam pemandian untuk kaum hawa pun tak kurang menariknya dibanding tempat pemandian laki-laki.

Kedua kolam pemandian tersebut lokasinya bersebelahan dan dibatasi dengan bangunan penginapan yang cukup representatif untuk sebuah tempat pengobatan alternatif.

Damsiwar menyebutkan, setidaknya tersedia 15 kamar untuk menampung pengunjung yang datang dari luar daerah atau bahkan diperuntukkan bagi orang yang melakukan terapi kelumpuhan dengan air hangat Bukik Kili.

“ Sewa kamar sehari sebesar Rp 10.000/orang,”papar Damsiwar.

Sepanjang pengataman penjaga pintu lokasi pemandian air hangat tersebut, rata-rata pengunjung yang sudah tua menghabiskan hari-harinya untuk melakukan pengobatan dengan menginap. Mereka yang melakukan terapi untuk penyembuhan penyakit tulang, rematik atau patah tulang bahkan ada yang menginap sampai satu bulan.

Tarmizi, salah seorang pengunjung yang telah hampir seminggu tinggal di penginapan Air Hangat Bukit Kili menuturkan, manfaat air hangat cukup besar dalam rangka pe nyembuhan penyakit tulang, bahkan penyakit kulit. Ia yang sengaja datang dari Bukittinggi untuk melakukan terapi dengan menginap di penginapan komplek pemandian guna memperoleh kehangatan air yang cukup tinggi pada subuh hari.

“ Sekitar jam 5 pagi saya sudah merendam diri, karena pada jam-jam itulah kehangatan air seperti merasuk kedalam tulang, “ujar Tarmizi yang mengaku mengalami gejala kelumpuhan pada kaki sebelah kirinya.

Mandi sambil berobat.

Pemandian air hangat Bukit Kili tentu tidak semata sebagai lokasi pemandian saja. Disamping mampu mengobati penyalit tulang dan bahkan penyakit kulit, pengunjung yang hadir juga kebanyakan hanya untuk menikmati panasnya pemandian di kaki gunung Talang tersebut. Karena itu, tidak bisa dielakkan bahwa pemandian air hangat Bukik Kili termasuk salah satu lokasi objek wisata di Kabupaten Solok. Dan konsekwensinya tentu saja,pihak Dinas Pariwisata dihimbau agar memasukkan lokasi ini dalam kalender kepariwisataan di daerah ini.

Tidak terlalu panjang memberi alasan kenapa pemandian air panas Bukik Kili butuh perhatian serius. Selain karena pengunjung yang datang kebanyakan memakai kendaraan pribadi, bahkan tidak jarang juga memanfaatkan kendaraan umum, yang aksesnya ke kota Solok cukup lancar.

Tetapi yang menjadi persoalan mendesak bagi pengurus mesjid Al-Ikwan tampaknya lebih kepada lokasi parkir. Dengan kondisi saat ini, keterbatasan lapangan parkir sangat menyulitkan bagi pengunjung untuk memarkir mobilnya secara nyaman, karena lokasi parkir selama ini hanya berada diujung jalan masuk kelokasi pemandian.

Dari pengamatan itu,jelas lapangan parkir menjadi hal yang mendesak. Kalau dibiarkan berkembang secara alami, seperti sekarang ini, pemandian air hangat Bukik Kili hanya sebatas tempat kunjungan biasa. Tetapi akan lebih menjadi objek wisata terkemuka kalau seandainya lapangan parkir disitu dikelola dengan sempurna dan tentu saja diperluas lokasinya.

” Lapangan parkir memang seadanya,” ujar Damsiwar tanpa mau berkomentar panjang tentang itu.

Inilah sebuah ironi dalam pengembangan kepariwsataan di Kabupaten Solok. Ketika pihak Pemerintah setempat jor-joran mengemukakan kehebatan objek wisata di daerah itu, dengan mengandalkan kekayaan alam, namun potensi objek wisata air hangat Bukik Kili yang hanya memerlukan sentuhan tipis saja, seolah terlupakan dari peta pengembangan wisata.

Dinas Pariwisata setempat mesti nya tersentuh untuk mengembangkan lokasi pemandian ini, meski itu hanya sebatas pengembangan lapangan parkir. Sehingga kesannya pembangunan kepariwisataan kabupaten Solok tidak terkesan normatif atau sebatas basa-basi, tetapi justru menjadi sebuah program nyata.

Semua tentu berharap, kelak para praktisi pariwisata, seperti biro perjalanan, memasukkan tempat pemandian air panas Bukik Kili sebagai salah satu lokasi kunjungan wisata di Sumatera Barat. Dengan cara seperti itu, suatu ketika kita memperoleh kepastian bahwa belum lengkap rasanya ke Solok tanpa menyinggahi pemandian air panas Bukik Kili