Laman

01 November 2011

Distro Sipak Tekong Hadir Sebagai Bentuk Cendramata Minangkabau

Konsep pengembangan ekonomi kreatif oleh pemerintah telah diwujudkan dengan membuka bidang Industri Kreatif pada Kementrian Negera Pariwisata dan Industri Kreatif. Tetapi sesungguhnya respon masyarakat terhadap industri yang lebih mengandalkan intelektual ini sudah lama menjalar ditengah perekonomian yang kompetitif. Maka inisiatif dari pemerintah untuk membuat kebijakan yang mendukung rencana pengembangan ekonomi kreatif , mestinya diikuti oleh komitmen pemerintah daerah untuk mendorong karakteristik atau identitas lokal sebagai daya tarik daerah itu sendiri.
Sejatinya, industri Kreatif merupakan kelompok industri yang terdiri dari berbagai jenis industri yang masing-masing memiliki keterkaitan dalam proses pengeksploitasian ide atau kekayaan intelektual (intellectual property) menjadi nilai ekonomi tinggi. Ia sekaligus dapat menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan. Sehingga ketika mengadopsi pengklasifikasian tersebut, tentulah saja bisnis kaos distro merupakan sebuah kreatifitas dalam sebuah industri sederhana.
Di Solok sendiri, persisnya di pinggir jalan Raya Solok-Padang, KM 7 Kelurahan Kajai, kenagarian Koto Baru, Kabupaten Solok, sejak semusim belakangan juga telah hadir Distro Sipak Tekong, yang memproduksi berbagai jenis T-Shirt dengan aneka logo dan gambar yang unik-unik.
“ Tetapi sebenarnya kita tidak melulu memproduksi Tshir dengan banyak gaya, tetapi juga menyediakan pakaian olahraga dan jaket. Pokoknya sesuai peasanaan, kita sediakan, “ terang Rijal Islamy, pengusaha Distro Sipak Tekong Solok yang lebih menjalankan perannya sebagai pemasaran saja.
Menurut Rijal, bisnis distro memang memiliki peluang yang baik. bahkan ternyata sangat banyak orang yang menjadikan T-shirt sebagai cendera mata atau pakaian kasual yang memang cocok untuk iklim. Tetapi sebenarnya yang menginsprirasi putra Saok Laweh, kecamatan Kubung Kabupaten Solok itu menekuni bidang sablon dengan berbagai ornament yang akan menegaskan cirri khas Distro sipak Tekong adalah karena melihat fenomena usaha kaos Dagadu dari Yogya,Joger dari Bali dan C-59 dari Bandung. “Salah satu keberhasilan mereka adalah karena mereka memiliki desain yang orisinil dan khas! Semua produksi itu identik dengan daerah mereka. Lantas, kenapa kita di sumatera Barat tidak mampu menghasilkan yang khas dan orisinil pula?, “ tutur ayah dua anak itu.
Darisitulah kemudian ia merenung dan kemudian menemukan ide yang pas untuk menentukan hasil produksinya agar identik dengan Sumatera Barat karena memiliki nuansa keminangannya.


Rijal Islamy menyebutkan, kunci sukses dalam bisnis sablon kaos adalah desain. kemampuan menciptakan desain-desain yang baik dan unik agar menempati posisi yang baik di mata konsumen menjadi penentu gerak usaha. Kejelian itu melihat trend itu penting jika ingin membangun brand atau merek sendiri.
Distro Sipak Tekong kedengaran memang unik. Kosa kata minang yang dipakai sejatinya sebuah jenis permanian anak nagari tempo doeloe. Lebih kratifi penampilan kaos produk sipak Tekong karena memakai logo kepala Kucing.
Rijal menyebutkan antara sepak tekong dengan hewan kucing dalam filosofinya memiliki korelasi makna. Sipak Tekong yang merupakan sebuah permainan anak nagari memiliki makna kegigihan mencari, sedangkan hewan kucing dalam pencariannya bisa menjadi teman bagi manusia, tetapi pada saat yang berbeda bisa menjadi buas tergantung kondisi saat itu.
“ Menyerupai kondisi hari ini, permainan sipak tekong dengan logo seekor kucing lebih mengandung makna kegigihan dalam berusaha. Tetapi dibalik itu kita sekaligus mengaktualisasikan tradisi minangkabau. Itulah yang kini menjadi brand bagi Distro Sipak Tekong, “ tutur Rijal Islamy ketika ditemui Singgalang di Distro sipak Tekong, Kajai Koto Baru, Jum'at (28/10).
Dari seluruh jenis produksi T-shirt Distro Sipak Tekong, untuk menjaga brand selalu dikaitkan dengan keunikan masa lalu, seperti halnya desain baru yang lucu dari produk sembalakon; Pucuak parancih, yang mengandung makna "Lamak Dek Awak Katuju dek Kambiang".
Kemudian desain "Sepeda Unto, bukan sapeda biaso". Kemudian Inyiak Balang, Sebutan masyarakat Minangkabau pada Harimau. Atau desain alang babega, merupakan salah satu binatang yang melambangkan keberanian. Namun di sisi lain elang dianggap musuh karena sering menangkap anak ayam. Alang babega berarti elang yang sedang berputar-putar mencari target. Saat ini, alang babega diartikan sebagai manusia yang sedang melansir mencari penghidupan.
Rizal memastikan hasil usaha distro akan sangat berbeda jika untuk ‘sekadar’ membuat sablon kaos biasa. Desain menurut Rijal menjadi tidak penting karena desain dapat diambil dari mana saja. Contohnya membuat merek-merek terkenal, atau sablon kaos untuk kepentingan instansi atau sekolah.
Desain kaos yang universal memang banyak diperjualbelikan di pasar atau toko mana saja karena sifatnya yang umum. Risikonya tentu harus bertarung dengan yang lain, apalagi harga kaos seperti ini bisa dibawah 20 ribu rupiah. Anda harus membuatnya dalam jumlah banyak agar skala ekonomis terpenuhi.
“ Kita umumnya menjual dengan harga standard an pas, masing-masing sebesar Rp 65.000 saja, “ katanya seraya menyebutkan bahan produksinya langsung dipasok dari Bandung dengan kualitas tinggi. Karena dalam soal kaos maupun mutu pengerjaan sablon, akan menentukan tingkat kepuasan konsumen
Kendati demikian, Rijal islamy tidak menafikan bahwa Pengusaha sablon kaos seharusnya menyadari tentang perkembangan fashion. Tanpa terus mengimbangi arah pasar mau seperti apa, sama halnya dengan melepas peluang yang ada di depan mata. Bagi para pemilik usaha sablon kaos, model distro sebenarnya hanyalah berupa penyesuaian belaka. Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang berbeda dengan desain kaos sebelumnya.
Karena alasan sangat menjanjikan, terutama ketika melihat komunitas-komunitas yang hadir membentuk kelompok berdasarkan kesamaan tertentu. Komunitas ini biasanya mengambil jalan eksistensi, salah satunya lewat pembuatan kaos distro.
” Kaos Distro saat ini telah menjadi genre. Akan lebih baik kalau kemudian berkembang menjadi cendramata bagi daerah kita Di sumbatera Barat. Arah kita memang kesana, karena itu kita akan segera mendafkan hak patennya agar Distro sipak Tekong tidak di klaim sebagai produk orang lain, “ papar Rizal menyudahi. *****

27 Oktober 2011

Membicarakan Kepariwisataan di Jakarta


Setinggi-tinggi terbang bangau, kembalinya ke kubangan jua. Sejauh-jauh merantau, kampung halaman terbayang jua Sejauh-jauh merantau, adat Minang tetap digungguang dibaok tabang.Kecintaan perantau Kabupaten Solok di Jakarta kepada kampung halaman mereka ditunjukkan dengan kepedulian yang tinggi kepada negeri asal dan adat-budayanya. Aura kebudayaan dan primordial itu menggejala di Audotorium Bank Bukopin Jalan MT. Haryono Jakarta Selatan, saat dimana Ikatan Kekeluarga Kabupaten Solok (IKKS), Minggu (16/10), mengadakan halalbihalal yang dihadiri oleh Bupati Solok Syamsu Rahim.
Nuansa Minangkabau begitu kental, lebih menjelaskan atmosfir Kabupaten Solok ketika undangan disambut dengan tari pasambahan, siriah di carano.Momentum ini, setidaknya bagi IKKS lebih memberi makna bahwa, meski tinggal di rantau, warga Kabupaten Solok masih peduli dengan perkembangan dan selalu mengikuti setiap informasi dari kampung. Tersebab alasan itu, maka halal bihalal IKKS Jabotabek disisipi tema; semarak wisata Kabupaten solok menuju visit Indonesia Years 2012.
Hahal bi halal ikatan keluarga perantau itu untuk pertama kalinya pula mengurai masalah program pembangunan di Kabupaten solok, khususnya memperbincangkan prosfek kepariwisataan di daerah penghasil markisa itu, serta merta memotivasi Syamsu Rahim untuk mengekspose visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Solok terpilih.
Diantara deretan tokoh perantau itu sendiri, seperti Firdaus Oemar yang juga ketua IKKS, Marwan Paris Dt. Maruhun Saripado sekaligus sebagai ketua Solok Saiyo Sakato (S3), ketua DPP SAS, juga terlihat hadir Bupati Dharmasraya Ir. Adi Gunawan, Walikota Solok diwakili Sekda Suryadi Nurdal, SH, Ketua DPRD Kabupaten dan Kota Solok Syafri Dt. Siri Marajo dan Yustris Chan, SE, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kab. Solok Drs. jasman, MM.
Bupati Solok Syamsu Rahim dalam suarangan itu menyebutkan bahwa potensi daerah yang dipimpinnya sangat besar dalam banyak sektor. Terutama dari aspek Sumber Daya Alam dan sektor Kepariwisataa. Hanya saja persoalan selama ini potensi tersebut belum dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sehingga belum membawa manfaat terhadap perkembangan daerah dan masyarakat sendiri. “ Karena alasan itu, dalam penataan pembangunan 5 tahun ke depan, kita lebih mengedepankan visi menata kepemerintahan yang baik untuk mencapai kesejahteraan, “ sebut Syamsu Rahim.
Ada delapan misi untuk mencapai cita-cita tersebut, yang kelak akan dikerjakan secara terencana dan terintegrasi. Masalah pengembangan Kepariwisataan dalam kaitan itu termasuk diantara 8 prioritas pembangunan ke depan.


Banyak nagari di kabupaten solok, menurut Syamsu Rahim memiliki potensi yang berbeda. Semua itu belum tersentuh oleh tekhnologi lantaran banyak anak nagari yang meninggalkan kampung akibat merantau. Padahal filosofi karatau madang diuhulu, babuah baungo balun yang menggambarkan keinginan merantau karena dikampung berguna, itu sepenuhnya tidak benar kalau dikaitkan dengan kondisi kekinian masyarakat Kabupaten solok. “ Akibatnya banyak nagari-nagari yang tidak berkembang, karena semuanya merantau dan kemudian orang kampung menungguh hasil kiriman dari rantau, “ tutur Syamsu Rahim.
Atas fenomena itu pula, Bupati Solok kemudian dengan nada berkelakar menyatakan bahwa pemikiran merantau yang pernah di tulis Muchtar Naim dulu seharusnya ditinjau ulang agar masyarakat tidak meninggalkan kampung halamannya yang terlantar.
Banyak contoh nagari yang terlantar akibat merantau. seperti di nagari Siaro Aro, kecamatan IX Koto Sei Lasi. Akibat banyak ditinggal oleh warganya, sekitar 50 persen dari lahan produktif di nagari itu tidak tergarap.
Pula, Di bidang pariwisata demikian kenyataannya. Objek-objek kepariwisataan kabupaten solok yang menawan itu belum sepenuhnya bisa tergarap karena merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan padat modal. Untuk mengembangkannya perlu sentuhan investor. Sektor kepariwisataan ini, setidaknya sejajar dengan potensi sumber daya alam yang terkandung di kawasan danau Singkarak.
“ Kalau semua potensi itu bisa dimaksimalkan, Kabuapten Solok merupakan daerah kaya. Kita memiliki block Singkarak yang banyak menyimpan Gas dan kemungkinan juga minyak, sumber air panas yang berpotensi untuk pengembangan geoternal, serta bahan tambang lainnya, seperti emas dan biji besi serta batu hijau “ sebut Syamsu Rahim sembari menggugah perantau yang berhasil agar ikut menanamkan investasinya di kampung halaman.
Halah bihalal yang berlangsung penuh kekerabatan itu juga ditingkahi dengan dialog interaktif yang dipimpin oleh DR. Lukman, M.Si. Putra nagari Paninggahan, kecamatan Junjung Sirih yang juga Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebutkan potensi kabupaten Solok memiliki banyak pekuang usaha yang membutuhkan keberanian untuk berinvestasi sebagai bentuk kecintaan perantau kepada Kampung halaman sendiri. Oleh karena itu, ia sangat respek terhadap upaya pemkab. Solok dalam pengembangan kepariwisataan untuk mencapai kesejahteraan.
Dukung MTQ Dharmasraya
Kehadiran Bupati Dharmasraya dalam pertemuan perantau Kabupaten Solok di Jakarta tentu pula bukan sesuatu yang membingungkan, karena secara histories dan Kultural Ir adi Gunaman, MM memiliki hubungan emosional yang tinggi dengan daerah penghasil beras itu. “ Saya memang lahir dan dibesarkan di Gunung Medan, tetapi kedua orang tua saya berasal dari Paninjauan (ibu) dan nagari aripan (bapak). Karena alasan itu saya bangga diundang dalam pertemuan perantau Kabupaten Solok ini, “ tutur Adi Gunawan.
Sebagai bagian dari perantau Kabupaten solok, Bupati Dharmasraya itu lantas meminta dukungan terhadap pelaksanaan helat akbar keagamaan tingkat Sumatera Barat yang dilaksanakan tanggal 21-27 November 2011.
“ Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Sumatera Barat akan di Kabupaten Dharmasraya, diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp14 miliar. Karena kita disana akan melaksanakan iven keagamaan bagi masyarakat sumatera Bagian Tengah, “ terang Adi Gunawan sembari membuka peluang bagi perantau Kabupaten Solok untuk membuka stand pameran di arena MTQ tersebut.
Ketua IKKS Firdaus Oemar maupun Bupati Solok Syamsu Rahim serta merta menyatakan dukungan atas pelaksanaan MTQ di dharmasraya tersebut. Syamsu rahim bahkan menyatakan keberhasilan MTQ itu sendiri secara moral lebih merupakan kesuksesan masyarakat dan daerah Kabupaten Solok sendiri.-

Isu Mutasi

Namanya saja isu, boleh di dengar, boleh tidak. Dengan serius atau bahkan sekedar basa-basi, dan atau tidak usah dipercaya sama sekali. Isu relatif mirip kabar burung. Bisa juga kabar angin yang dihembus sepoi-sepoi oleh orang per orang. Tetapi tidak masuk akal kalau kemudian isu menyangkut mutasi tidak dipercayai sama sekali. Apalagi isu tersebut bersumber dari orang yang berkompeten untuk melakukan pergeseran jabatan itu. Maka percaya atau tidak, isu mutasi, hari ini, memang tengah menghiasi atmosfir kepemerintahan Kabupaten solok. Meski volumenya tidak sebising isu resufle yang tengah mengoyak kuping sejumlah menteri di pemerintahan Presiden SBY.
Namun secara semangat, sepertinya isu mutasi menteri tentulah menjadi momen yang perlu ditangkap oleh Bupati solok Syamsu Rahim. Karena logikanya, pemilihan menteri yang salah berdampak besar terhadap penurunan kualitas kinerja presiden. Hal itu juga berlaku bagi Bupati, para kepala SKPD yang salah sangat berdampak bagi kesuksesan program dalam menjalankan Renstra dan Renja pada masing-masing Dinas yang dipimpinnya.
Kita tentu tidak boleh menuding satu persatu, atau kasus per kasus atas kelemahan SKPD dimaksud. Apalagi yang berkompeten dalam menilai soal ini hanya Kepala Daerah. Bupati dan Wakil Bupati solok yang bisa menentukan, berhasil atau tidaknya. Tetapi dari gambaran umum, rata-rata SKPD saat ini memang hanya sekedar menjalankan program konvensional. Hasilnya pun rata-rata air saja. Kepahitan ini harus dikatakan, untuk kemudian bisa melakukan evaluasi atau bahkan perombakan sekaligus.

Meski ada kepala SKPD yang bersikukuh menyoal tentang indikator apa yang dipakai untuk menentukan rancak tidaknya kinerja seseorang, atau instrument apa yang digunakan untuk mengatakan bagus atau kegagalan kepala SKPD, maka seharusnya bukan masyarakat yang menilai. Bahkan sebagai orang awam, masyarakat hanya bisa melihat tentang terobosan apa yang telah dilakukan hingga setahun lebih pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Solok periode 2010-2015?
Pertanyaan ini bisa lebih menggigit ketika membuka dokumen RPJMD Kabupaten Solok yang mengurai tentang rencana pengembangan kota Arosuka melalui program pembangunan jalan dua jalur di depan kantor Bupati Solok.

Untuk program yang kelak dibayangkan bakal menjadi proyek mercusuar ini, apakah pihak PU telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang nanti akan terkena dampak perluasan jalan? Pertanyaan berikutnya tentu soal sumber dana, tahapan pengerjaan dari fase ke fase dan bahkan soal jadwal peresmiannya pun, seharusnya sudah tergambar dalam Renstra dinas PU kabupaten Solok.

Ini baru satu rencana dari sekian banyak program yang menjadi obsesi Kepala Daerah yang di ketengahkan. Dari dinas lain pertanyaan serupa juga cukup relevan dipertanyakan, bahkan di persoalkan oleh kepala daerah sendiri. Pertanyaan itu tentu menyangkut Renstra (rencana strategis) dan Renja (Rencana Kerja) dalam 5 tahun ke depan itu. Dari pemotretan itu kelak akan diperoleh gambaran kesuksesan RPJMD itu sendiri, dan sekaligus akan tergambar kegagalan ketika materi renstra itu tidak tercapai. Untuk soal ini, tentu Bupati Solok akan lebih mengerti. Dan karena itu pula, yang bisa menentukan pilihan-pilihan atas perombakan pejabat dimaksud, pula adalah Bupati Solok sendiri.

Tetapi, apa benar penting dilakukan evaluasi? Mungkin perlu, mungkin pula tidak. Perlu, ketika komitmen tiada henti itu sudah dirasakan berhenti menyatu dengan kepala dinas bersangkutan. Apakah masih ada kesamaan tujuan untuk memperbaiki diri dankemudian sama-sama menjunjung tugas sebagai pelayan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. Dan tidak perlu, ketika komitmen itu semakin tebal untuk bersama-sama memperbaiki daerah ini. Yang tahu soal ini, juga Bupati Solok.

Perkara evaluasi ini kembali mengemuka ketika dihadapan pegawai kantor Bupati Solok, sekali waktu, Syamsu Rahim pernah mewacanakan perombakan kabinetnya dengan tujuan memberi daya kejut terhadap kinerja para pejabat. Tetapi lantaran rencana perombakan itu hanya berlalu sebagai wacana dalam waktu yang tidak menentu, praktis keinginan Bupati solok itu kemudian berkembang menjadi sebatas isu.
Tetapi justru isu itulah yang meudian menjadi boomerang. Menurut anggota Komisi A DPRD Kabupaten Solok, Ahmad Rius. SH, isu mutasi telah menghadirkan kegelisahan dilingkungan pejabat. Mereka bahkan seolah berada dibawah tekanan psykologis. Karena alasan itu, Ahmad Rius kemudian mengharapkan Bupati Solok mengarifi gejala itu.
“ Kalau benar akan dilakukan mutasi, atau merombak kepala SKPD, lakukan sekarang. Tetapi kalau tidak, beri juga kata-kata penyejuk. Tanpa statemen itu, wacana perombakan kabinet akan selalu menjadi isu, “ tutur ahmad Rius disepotong siang.

Tentu bukan tanpa argumentasi Politisi PAN itu mengeluarkan pendapat. Analisa terhadap kondisi terseut telah cukup mewakili ketidak nyamanan para kepala SKPD dalam bekerja. Mereka kebanyakan seolah berada dalam kepasrahan. Mereka cenderung berpikir kapan masanya akan diganti tagak. Anggapan itu kemudian melahirkan suasana kerja yang tidak enjoy. Mereka seolahberada dibawah tekanan psykologis..

Atas argumentasi itu, Ahmad Rius kemudian lebih menyarankan adanya kebijakan, atau bahkan bisa jadi keberanian Bupati Solok untuk segera melakukan atau tidak melakukan mutasi, tetapi tentu dengan mengeluarkan statemen yang bisa dijadikan pegangan untuk penanggulangan mental para pejabat. Jangan dibiarkan berlalu seperti sekarang ini, tergenang tidak hanyut, bahwa sudah hampir tiga bulan, selalu tersiar dari mulut ke mulut tentang isu mutasi ini. Kalau begini terus, kapan pembangunan akan terlaksana. Sementara mereka tetap dicemaskan oleh isu mutasi yang kemudian melahirkan sikap apatis

29 September 2011

Jalan Dua Jalur Diatas Kertas

Tersusun rapi dan terstruktur, naskah Visi, Misi dan Program kerja Bupati dan Wakil Bupati Solok 2010-2015, memang terlalu indah dibanding puisi remaja yang sanggup menumbuhkan motivasi. Visi, Misi dan Program kerja Bupati dan Wakil Bupati Solok itu, dari essensi tendensi, lebih sekedar acuan pembangunan. Bahkan secara hakiki merupakan pondasi untuk mencapai kesejahteraan umat Kabupaten Solok.

Tetapi dalam perjalanan kepemerintahannya --Visi, Misi dan Program kerja Bupati dan Wakil Bupati Solok yang telah di kundang-kundang selama setahun lebih-- mengharapkan dukungan dari para pemangku kepentingan, atau dalam bahasa langitnya disebut sebagai kelompok stake holder, ibaratnya seperti si bisu barasian manakala pengambil kebijakan itu sendiri -- terutama dikalangan pimpinan SKPD -- relatif tidak memaknai Visi, Misi dan Program kerja sebagai sebuah pijakan untuk melompat kesasaran utama pembangunan Kabupaten Solok.

Bukan tanpa argumentasi penilaian itu muncul, Bahkan asumsi sejumlah SKPD senantiasa bersikap skeptis pun didukung oleh analisa sejumlah sumber yang menjadi bagian dari SKPD itu sendiri.

Dengan mewanti-wanti agar jatidirnya tidak ditulis, sumber itu mengatakan bahwa kepala SKPD yang semestinya memiliki sikap responsif terhadap naskah kerja Bupati Solok itu, harusnya telah melakukan berbagai langkah inovatif guna memperlihatkan kreativitasnya sebelum akhirnya diakulumulasi menjadi penilaian kinerja.

Tetapi itulah dendang sendu di Arosuka hari ini, yang iramanya jelas tidak membangkitkan harmoni. Setidaknya genre itu dirusak oleh mental dan keangkuhan pimpinan SKPD yang cenderung menilai kualitasnya lebih baik dari ukuran rata-rata. Merasa hebat dibanding aparatur yang lain. Dan bahayanya,ketika ada kepala SKPD yang merasa hebat sendiri dan atau tidak ada orang yang cerdik dibanding dia, cenderung menanamkan anggapan bahwa Kepala daerah akan cemas kehilangan dirinya. Bupati bahkan akan malalok’an sakalok dulu kalau memang hendak mengganti yang dirinya.

Dalam kondisi seperti ini, tanpa bermaksud menilai kinerja kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kab. Solok yang digadang-gadang paling mantap mengendalikan instansi pekerjaan umum, seharusnya bertanggung jawab atas perencanaan program Infrastruktur Untuk Mendukung Pembangunan Di Segala Bidang.
“ Paling tidak Dinas pekerjaan umum telah menyiapkan grand design pembangunan infrastruktur yg komprehensif dan berkelanjutan. Tetapi mana? Harusnya tersosialisasikan,” kata Yuslir Mkd. sati, penggiat LSM Lintang Fortuna yang kerap juga mengamati program infrastruktur di daerah itu.

Senada dengan Yuslir, sumber berkompeten pada dinas PU Kab. Solok lebih spesifik mengurai soal program jalan dua jalur antara Labuah Saiyo Sukarami sampai ke Pintu Angin Lubuk Selasih. Jalan sepanjang kurang lebih 7 Km yang membentang ditengah kota Arosuka itu kelak diharapkan menghadirkan tata letak ibu Kota kabupaten yang humanis.
“ Harusnya, bersamaan dengan pembukaan jalan By Pass Lubuk Selasih, PU juga menyiapkan program jalan dua jalur, lengkap dengan kerangka pembiayaan dan skedul pengerjaannya, “ jelas sumber tersebut.

Tersebab badan jalan dua jalur berada diatas Jalur Lintas Sumatera, tentulah pembiayaannya menjadi beban pemerintah pusat.Tidak mungkin program pengembangan jalan tersebut dibebankan kepada APBD kab.Solok atau propinsi Sumbar.
“ Program jalan dua jalur ini masuk dalam RPJMD Kabupaten solok. Tetapi setelah setahun, PU telah melangkah sejauh mana? Harusnya ini menjadi perhatian. Kalau tidak jangan dimasukkan dalam RPJMD kita, “ ulasnya.

Tendensi dari argumentasi tersebut sejatinya ingin menjelaskan bahwa pimpinan dinas PU harusnya melakukan terobosan baru untuk mengaplikasikan rencana program dimaksud. Pekerjaan umum dalam hal ini harus sering mengikuti konvensi regional Sumatera. Atau Pejabat PU melakukan jeput bola dengan mengusulkan pembiayaan ke pemerintah pusat melalui Gubernur Sumbar.
“ Tetapi dia ke Jakarta, ke Jakarta juga. Hasilnya belum terlihat, “ sonsong Yuslir dalam kapasitasnya sebagai aktivis LSM.

Asumsi miring yang kemudian menimbulkan preseden kurang bagus terhadap pejabat dinas teknis itu sebanding lurus dengan sikap kebanyakan pejabat yang over confiden. Dengan tingkat kepercayaan diri yang berlebihan itulah akhirnya membuahkan kesan bahwa yang bersangkutan tidak akan bisa di bongkar pasang oleh kepala daerah karena satu paham yang melekat; tidak ada aparatur lain yang mampu menganggtikan posisinya kecuali dia.

Tetapi ironisnya, justru karena terlonsong menganggap diri hebat dan sok mantap, kinerjanya tak lebih serupa “lepas makan” saja. Perubahan yang selalu diharapkan secara signifikan ketika mengurai visi, misi dan program pembangunan, nyatanya masih tetap menjadi sebuah dokumen saja.

Ketika mencoba mengurai solusi atas persoalan ini, menurut salah seorang anggota DPRD kab. Solok Ahmad Rius, SH bahwa fenomenanya haruslah diarifi sebagai sebuah tekanan spikologis. Dinamika pikiran para pejabat di kabupaten Solok hari ini, sambung anggota Komisi A dari partai PAN itu adalah buah dari kecemasan atas isu perombakan kabinet. Akibatnya separoh pejabat berada dalam atmosfir kecemasan, sebagian lain justru over konviden. Merasa hebat sendiri. Ujung-ujungnya program yang dikembangkan seperti tergenang tidak hanyut.
“ Kalau memang harus mutasi atau merombak kabinet, ya lakukan sekarang. Bupati Solok jangan pernah mengulur-ngulur waktu untuk menjaga suasana bathin pejabat “ tutur Ahmad Rius.

Mengerucutkan persoalan kebidang pembangunan infrastruktur, instansi PU sebagai penanggu jawab program mestinya mampu mengejawantahkan khayalan kepala daerah yang telah dituangkan dalam visi-misi. Muara dari analisa demikian lebih menekankan bahwa pejabat PU dalam kaitan ini harusnya tidak memelihara sikap merasa hebat sendiri.
“ Diatas langit ada langit, jadi jangan merasa hebat sendirilah, “ tangkap ketua DPRD Kab. Solok Syafri Dt. Siri Marajo ketika dimintakan pendapatnya soal pejabat yang terkesan seperti rancak dilabuah.****

25 September 2011

Jalan Lingkar Utara, Obsesi Yang Tergantung


Pembangunan jalan lingkar utara (North Ring Road) kota Solok boleh jadi merupakan obsesi pemerintah yang tergantung. Prasarana transportasi tersebut,yang dirancang sejak tahun 2005 lalu, hingga kini masih menjadi bengkalai yang tak berujung. Bahkan kesannya kian menyimpan dilemma ketika berbicara tentang realisasi pembebasan tanah masyarakat.

Kendati demikian, pemerintah kota solok di bawah kepemimpinan Irzal Ilyas Dt. lawikBasa- Zul Elfian justru merasa tertantang untuk menyelesaikan bengkalai dimaksud, sekalipun kesannya seperti meneruka lagi.

Pembangunan jalan lingkar utara yang kemudian dimasukkan dalam RPJMD kota Solok, ditargetkan dalam jangka waktu empat tahun ke depan itu bertujuan mengurai kepadatan lalu lintas di dalam kota akibat tingginya jumlah kendaraan, pula sebagai jawaban dari tuntutan perkembangan kota itu sendiri. Kelak dibayangkan pembangunan jalan lingkar utara serta merta akan memicu terjadinya pengembangan pembangunan ke kawasan utara menyusul terjadinya dampak domino terhadap perekonomian masyarakat.

Jalan lingkar luar utara yang memotong kawasan Banda Pandung - Laing Pasir sepanjang 8,12 km dengan klasifikasi aspal beton selebar 28 meter, diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas terutama kendaraan bertonase tinggi yang selama ini melintas di kawasan kota.

Wakil Wali Kota solok Zul Elfian, SH. M.Si dalam serangkaian wawancara di studio V-Radio tanah Garam menyebutkan, bahwa pembangunan infrastuktur salah satu tolok ukur kemajuan suatu daerah. Untuk itu, dalam meningkatkan kemajuan dan perekonomian di Kota Solok. Pemerintah Kota berkomitmen memberi pelayanan terbaik kepada masyarakatnya.

Program infrastruktur merupakan jawaban dari Pemko Solok untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan kota. Salah satu infrastruktur yang sedang dilaksanakan yakni pembangunan Jalan Lingkar Utara

Pembangunan jalan lingkar utara, kata dia, digagas sebagai alternatif mengatasi kemacetan yang melintasi pusat kota Solok dan mengatasi kemacetan di dalam kota akibat peningkatan volume kendaraan.
“ Jalan lingkar utara juga bakal memacu pertumbuhan kawasan baru di wilayah utara kota solok seperti Bandar pandung, Kampung Jawa, nan Balimo serta Laing, “ beber Zul Elfian.

Jalan yang direncakanan 28 meter yang terdiri dari dua jalur dua arah dan empat lajur bakal dilengkapi dengan fasilitas median, taman, bahu jalan trotoar serta parker area berikut utilitas lainnya. Guna mewujudkan perencanaan tersebut dilakukan pembebasan tanah milik masyarakat seluas 8,12 kali 28meter.
Didampingi Kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Solok, Wakil Walikota Zul Elfian menambahkan pada tahun 2006 telah dilakukan pembebasan sepanjang 3,96 Km yang meliputi kawasan Bandar Pandung-simpang damar Laing. Kini tinggal pembebasan di kawasan Simpang Damar Laing-Laing pasir sepanjang 4,16 Km.

Selanjutkanya tahun 2007 telah dilakukan pembangunan pondasi jembatan (abutment) Bandar Pandung oleh dinas pprasarana Jalan Porpinsi Sumbar dengan biaya sebanyak Rp 1,6 Miliar. Tahun berikutnya (2008) juga telah dilaksanakan pembukaan trase jalan sepanjang 3,96 Km antara Bandar Pandung –Simpang Damar laing dengan biaya sebanyak Rp 2 miliar.

Selanjutnya tahun 2009 dengan memanfaatkan APBD Kota Solok sebesar Rp 4.9 miliar ditingkatkan pembangunan atas jembatan Bandar Pandung dengan konstruksi jembatan prestressing pracetak panjang bentar 60 meter dan lebar 9 meter.Kemudian tahun 2010 ini dilakukan perkerasan jalan lingkar sepanjang 550 meter antara Simpang Bandar Pandung-Gurun Bagan dengan dana sebanyak Rp 1,485 miliar.

Dengan pembangunan itu belum berarti prasrana jalan lingkar utara selesai. Kondisinya saat ini justru meninggalkan bengkalai yang perlu terus dikembangkan untuk menjadi efektif, seperti lanjutan pembangunan jembatan sepanjang 60 meter kali 9meter dengan perkiraan dana mencapai Rp 10,8 miliar.
Kemudian direncanakan juga pada tahun 2011 kelanjutan perkerasan jalan Simpang Bandar pandung-Simpang Damar Laing dengan dana mencapai Rp 21 miliar, berikut pembangunan lanjutan jalan dari Simpang Laing Damar menuju Simpang Laing Pasir sebesar dengan biaya Rp 29,127 miliar.

Wali kota Solok dikepsempatan terpisah menyebutkan pembangunan jalan lingkar utara dilakukan secara bertahaap dan berkelanjutan. Pengadaan dana terhadap infrastruktur tersebut diupayakan dari APBN serta APBD sumatera barat, disamping menggunakan APBD Kota Soloksendiri.

Wali Kota melihat dari aspek efektifitas dengan dibukanya jalan lingkar utara kota Solok akan memperlancar lalu lintas bagi angkutan berat karena tidak lagi melalui jalur depan balai kota Solok dari Bukittinggi ke Jakarta. Jalan lingkar juga akan mampu menciptakan sentra ekonomi di segala bidang dan tentu saja ke depan Jalintar bisa menjadi kebanggaan masyarakat Kota Solok.

"Kalau kita bicara mengenai manfaatnya bagi masyarakat sangat luas sekali. Pembangunan Jalintar dapat mengangkat perekonomian masyarakat khususnya masyarakat di wilayah utara. Dalam memandang suatu pembangunan kila harus obyektif," ujar Irzal Ilyas menyudahi. –

Peran DPRD Memaknai Semangat Konstitusi


Sentana Isu kepemerintahan yang baik menjadi jargon Bupati Solok Syamsu Rahim dengan Wakil Bupati Desra Ediwan Anan Tanur yang disematkan sebagai bagian dari visi dan misi pasangan kepala daerah tersebut, bukan lantas kemudian ‘kemesraan’ hubungan antara legislative dan eksekutif di Kabupaten Solok seakan menghilangkan pematang untuk mengaburkan makna antara ‘sawah’ dengan ‘bandar’.
“ Harmonisasi dibutuhkan dalam kerangka sinergitas untuk kemanjuan pembangunan, namun sense of critis dewan tetap menjadi andalan unntuk mengedepankan fungsi pengawasan. Muaranya juga kemudian untuk kemaslahatan daerah dan rakyatnya, “ kata ketua DPRD Kabupaten Solok Syafri Dt. Siri Marajo ketika berdialiog diruang kerjanya, sekali waktu.

Ketua DPRD yang akrab dipanggil angku oleh banyak kalangan ini sejatinya mempertegas bahwa kemesraan hubungan antar eksekutif dengan legislatif adalah suatu keharusan dan mutlak dalam menjalankan roda pemerintahan. Amanat UU No.32 tentang Otonomi Daerah (Otoda), kedudukan legislatif dan eksekutif memiliki peran sama dalam membangun dan memajukan daerah.

Kendati begitu belum ada penilaian khusus dari publik tentang kinerja dewan di daerah itu, kecuali pandangan umum cenderung mengatakan rata-rata air. Bahkan belum ada standart baku mengenai ukuran kinerja DPRD dalam melaksanakan salah satu tugas dan fungsinya, yaitu fungsi legislasi.

“ Legislasi itu sendiri adalah produk politik yang menjadi pilihan kebijakan dalam menentukan arah permasalahan kalau itu sudah dalam bentuk PERDA. Karena itu, sangat tidak elegan melakukan penilaian terhadap dewan tanpa adanya penelusuran kedalam, sama tidak baiknya menganggap miring terhadap keberadaan anggota DPRD Kabupaten Solok hari ini, “ jelas Asrul Tanjung, wakil ketua dari partai Demokrat itu seperti hendak menetralisir suasana bathin masyarakat.
Argumentasi Asrul Tanjung terkesan berlawanan arus dengan kenyataan bahwa dari seluruh Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Solok -baik yang telah disahkan maupun yang sedang dalam proses pembahasan di DPRD berasal dari inisiatif Pemerintah setempat. Ditengarai belum satupun Produk hukum yang berasal dari inisiatif DPRD Kab. Solok.

Tetapi sangat tidak masuk akal pula ketika Ranperda diajukan tanpa pembahasan yang membutuhkan energi ekstra dari dewan. Maka logikanya tanpa anggota legislative untuk membahas, menganalisa, mengintrodusir dan bahkan mengoreksi Rancangan peratruan tersebut sampai akhirnya ditetapkan menjadi produk hukum, tentulah tak kan berguna juga.Karena itu, sangat naïf kalau kemudian menyebutkan lemahnya fungsi anggota dewan yang terhormat itu.
Kondisi itu kian mempertegas bahwa DPRD sangat jelas perannya dalam memaknai semangat dari perubahan konstitusional yang terjadi pasca reformasi melalui amandemen UUD 1945 yang memberikan kekuasaan legislasi kepada Legislatif. Perubahan konstitusional tersebut sangat melecut produktivitas DPRD Kab. Solok dalam menggunakan hak legislasinya dalam pembuatan Rancangan Peraturan Daerah.

Karena alasan itu akan menjadi ironi manakala lembaga yang bertugas memproduk aturan namun diisi oleh orang-orang dengan pengalaman minim dibidangnya. Tetapi di Kabupaten Solok, kenyataan membuktikan bahwa kulaitas wakil rakyatnya relatif baik untuk menghindari penilaian rata-rata air. Kondisi itu terlihat dari output kinerja yang disuguhkan berbentuk aturan yang dihasilkannya banyak yang berorientasi pada pemenuhan solusi pemerintahan setempat. Kendati dari ke 35 anggota DPRD Kab. Solok tersebut tidak seluruhnya yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Tetapi dengan banyak belajar dan selalu menjadikan pengalaman adalah guru terbaik, maka kelangsungan peran wakil rakyat tercukupi.

“ Kapasitas yang kurang dan latar belakang yang rendah sebetulnya bukan kendala DPRD dalam menjalankan kekuasaan legislasinya. Sebab selama seseorang punya kemauan yang tinggi untuk belajar dan terus meng up- grade diri dengan informasi, sebenarnya mereka akan mampu berkembang. Disitulah makna peningkatan SDM itu sesuangguhnya, “ kata Hendri Dunan S. Sos, politisi senior yang juga mantan calon walikota Solok itu.

























18 September 2011

SIDAK MENGUNGKAP MENTAL PEJABAT

Menindak lanjuti instruksi Bupati Solok soal kedisplinan pegawai perlu diawasi pasca lebaran Idul Fitri 1442 H, Pemerintah Kabupaten Solok serta merta menurunkan 3 tim untuk melakukan inpeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sepanjang pekan ini. Kebijakan melakukan sidak tersebut dilakukan emnyusul apel gabungan Pegawai di lingkungan Pemkab. Solok yang di gelar pada hari pertama kerja selepaas cuti bersama hari raya Idul Fitri.
Kendati dalam apel gabungan yang digelar Senin (5/9) terlihat tingkat kehadiran pegawai cukup mengembirakan, namun hal itu tampaknya belum mengundang keyakinan Bupati Solok sebagai symbol kuatnya kedisiplinan. Bahkan Syamsu Rahim saat itu justru memerintahkan agar dilakukan sidak guna memantau kehadiran pegawai.
Segaris dengan keinginan Syamsu Rahim, wakil Bupati Solok Desra Ediwan serta merta menyatakan ketidak pahamannya terhadap sikap sejumlah kepala SKPD yang suka menghilang sejak bulan ramadhan sampai menjelang lebaran.
“ Ini preseden buruk. Masa kepala Dinas, pimpinan SKPD menghilang menjelang lebaran. Kabarnya karena takut sama Wartawan, alasan apa itu?, “ tutur Desra Ediwan sambil menekankan tidak ada alasan bagi kepala dinas meninggalkan kantornya tanpa keterangan yang jelas.
Ders Ediwan me wanti wanti para pejabat pemegang eselonering itu agar bisa memberi teladan kepada bawahannya. Jangan karena alasan takut bersirobok dengan wartawan menjelang lebaran,terus menghilang dan sembunyi sembunyi. Padahal, menurut Desra Ediwan, saban waktu pergaulan pejabat justru dengan wartawan-wartawan itu. Artinya sudah jelas siapa yang menjadi wartawan di daerah ini.
“ Jangan takut kepada wartawan. Karena kita sudah sangat mengenal mereka yang selamaini menjadi mitra kita. Kenapa harus melarikan diri,” tutur wakil Bupati Solok.
Agaknya, atas perangai pejabat yang suka menghilang dikantor karena alasan yang tidak masuk akal, Pemkab. solok kemudian mengeluarkan kebijakan Sidakdengan membentuk 3 Tim yang selama seminggu akan turun melakukan evaluasi.
“ Ada tiga tim yang melakukan Sidak, yakni Tim untuk lingkungan Kompleks perkantiran di Arosuka, Tim yang turun ke kecamatan-kecamatan serta satu tim lagi sidak ke SKPD lainnya, “ kata Kepala Inspektorat Kab. solok Malfider, SH ketika menjawab Singgalang di sela sidak di Sekretariat DPRD, Rabu ( 7/9).
Malfider yang melakukan sidak bersama Asisten I Drs. suardi Batubara serta staf ahli Drs. Tamyus, TM, mengaku belum dapat menguukur tingkat kehadiran pns karena pihaknya masih bekerja.
“ Tapi gambarannya cukup baiklah, “ kata Malfider seraya berjalan ke SKPD lainnya untuk melakukan hal serupa.
Penilaian Kepala Inspektorat itu tampaknya memang tidak perlu pembuktian lantaran hari itu memang rata-rata pegawai dan terutama para kepala SKPD banyak yang hadir. Tetapi kesimpulan itu akan berbanding terbalik ketika sepekan menjelang lebaran. Para Kepala Dinas, Instansi dan kantor di daerah itu nyaris tidak tampak batang hidungnya. Konon mereka lari dan menghilang untuk menghindari wartawan yang dianggapnya selalu meminta menagih THR (Tunjangan Hari Raya). Saat itu, bisa dikatakan wartawan identik dengan uang keluar.
Begitu sempit pemikiran kepala dinas dan pejabat-pejabat daerah terhadap profesi wartawan. Kalaupun benar konsekwensinya begitu, kiranya sebuah hal yang manusiawi karena selama ini mereka (wartawan) adalah mitra bagi penyebarluasan informasi dan bahkan adakalanya mengharumkan namanya pula. Tetapi kenapa ketika lebaran tiba, wartawan seolah tak dibutuhkan benar.
“ Hari ini kepala dinas banyak hadir, karena ada instruksi untuk tidak boleh meninggalkan kantor tanpa alasan yang jelas, “ kata salah seorang pekerja jurnalistik yang enggan ditulis jatidirinya.
Berbeda suasananya sebelum lebaran, ada-ada saja akalnya untuk menghindari kantor bupati di Arosuka. Ada yang mengaku mengkuti rapat di Bukittingi selama sepekan baneneang. Bahkan ada yang ke Jakarta menjelang Lebaran tiba. Potret demikian menggambarkan betapa tidak bertuannya kantor Bupati solok di Arosuka.
Ditengarai, dari gambaran itulah kemudian Bupati Solok langsung mengeluarkan instruksi untuk melalkukan sidak sepekan terakhir. Bahkan untuk meninggalkan kantor, konon kepala dinas harus membuat surat izin khusus agar jelas kalau hilang tahu rimbanya, kalau hanyut jelas muaranya. Hehe..—

Yustris Chan:Pentingnya Inovasi Bagi Kepala SKPD

Krativitas dan inovasi sejatinya dua opsi yang tidak boleh dilengahkan ketika berhadapan dengan pembangunan. Kreativitas akan hadir ketika inovasi menyala dalam memori pikiran. Tuntutan itu sangat wajar berkembang, terlebih untuk seseorang yang tengah berada di kursi pengambil kebijakan. Dan tuntutan itulah yang dikemukakan oleh ketua DPRD Kota Solok Yutris Can, SE ketika mengunyah-nguyah soal kualitas pejabat eselon II yang dipercaya mengendalikan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di daerah itu.
Tentunya bukan sesuatu yang berlebihan ketika ketua parlemen kota bareh itu mengemukakan kegundahannya. Bahkan nuansanya sangat normative manakala kapasitasnya sebagai wakil rakyat yang menghendaki sebuah dinamika. Sekalipun untuk melakukan intervensi langsung terhadap pola kerja kepala SKPD itu tidak pas, tetapi untuk sebatas menggugah kenapa tidak?
“ Betapa kita ingin kepala SKPD itu meninggalkan cara kerja conventional. Harusnya ada inovasi, ada kreasi. Tidak bekerja sekedar lapeh makan lah, “ ujarnya nelangsa dalam harap yang jernih.
Ketua DPRD Kota Solok itu tidak mengeneralisir semua SKPD tidak memiliki inovasi. Tetapi kecendrungan bekerja berdasarkan apa yang tertulis guna menghabiskan anggaran yang tersedia, tanpa ada feet-back terhadap tupoksi yang bersankgutan, itulah yang menjadi kerisauan wakil rakyat yang juga ketua Partai Golkar Kota Solok itu.
Dihadapan sejumlah pekerja jurnalistik yang melakukan tugas liputan di kota yang terbelah oleh Batang Lembang itu, Rabu (2/2), sembari makan bersama di kedai nasi depan balai Kota Solok, ekspresi wajah politisi muda itu tidak dalam aura kamusflase ketika menyatakan kegundahannya terhadap kondisi kota Solok hari ini. Ia bahkan dengan suasana kebersamaan, mengaku ingin menumbuhkan dinamika dan kompetitif dalam mengembangkan kota Solok ke depan.
Banyak hal yang dapat dilakukan. Lebih-lebih dengan performance kepemimpinan Wali Kota Irzal Ilyas dan Wakil Walikota Zul Elfian yang aspiratif dan akomodatif, mestinya diarifi oleh kepala SKPD agar terus melakukan pengembangan kreativitas.
“ Kalau kemudian alasannya karena keterbatasan dana, itu sebuah keniscayaan. Tetapi kadang-kadang saya heran juga ketika mendengar kepala SKPD mengeluh soal dana-dana pembangunan. Kalau muaranya untuk pengembangan kesejahteraan masyarakat, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan hukum, kenapa tidakdilaksanakan? Bukankah kita bekerja untuk rakyat?, “ tutur Yustri Can.
Ketua DPRD yang lebih suka mengembangkan diskusi dengan seluruh komponen masyarakat itu, termasuk wartawan. menyebutkan perkembangan Kota Solok berbanding terbalik dengan kondisi sosial masyarakat sekitar. Kondisi-kondisi terburuk itulah yang mengundang kegelisahannya untuk mulai menata lingkungan sebelum akhirnya berbicara soal kemajuan pembangunan itu sendiri.
“ Kita tidak bisa membantah kenyataan, ditingkat anak-anak sekarang, berapa banyak anak-anak usia sekolah yang melakukan kegiatan menyimpang, seperti mengisap lem, merokok. Mereka generasi muda, kita khawatir pada masanya nanti berprilaku lebih ekstrim. Itu sebuah gejala sosial yang perlu disikapi oleh banyak instansi, “ sebut Yustri Can.
Fenomena buruk itu kemudian menjadi catatannya untuk menggugah para pengambil kebijakan dan pihak berkompeten lainnya. Setidaknya di mulai dilingkungan terkecil, keluarga dan lingkungan. Sisakan waktu untuk menyibukkan diri mengurus generasi muda kota Solok.
Harapan itu tentunya bukan semata kepada eksekutif, ia juga mengetuk hati ninik-mamak, jangan hanya sibuk dengan pepatah-petitih. Semua elemen, DPRD, bahkan wartawan juga, harusnya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
“ Kita ini kan bagian dari masyarakat. Harusnya kita ikut menggerakkan pemberdayaan ini. Karena alasan itulah pula, tahun 2011 ini DPRD Kota Solok mendorong setiap kelurahan memprogramkan aktivitas kepemudaan dengan menyetujui bantuan dana sebanyak Rp 25 juta per kelurahan untuk menghidupkan kegiatan itu sendiri, “ jelas Yustris Can.
Tentu saja tanpa kebersamaan program tersebut tidak akan jalan. Ia berharap setiap elemen di tingkat kelurahan mendorong terciptanya suasana edukatif dalam berbagai kegiatan pemuda. Seperti halnya di keluhrahan KTK, sebut ketua DPRD yang akrab dipanggil Boris itu, telah mengembangkan sasaran atau dojo beladiri Tae Kwon Do.
“ Banyak kegiatan kepemudaan yang perlu di tumbuhkan. Itu semua untukmengalihkan perhatian anak-anak terhadap kegiatan yang merugikan, “ sebutnya.
Tentu tidak sebatas kegiatan pemuda dan remaja itu yang diprioritaskan. Ketua partai Golkar Kota Solok itu juga melihat potensi lain di bidang pertanian. Kota Solok yang dikenal sebagai penghasil bareh Solok, kata dia, perlu dipelihara kulturnya.
“ Hakiki pembangunan harus menyeluruh, komprehensif. Kita tidak boleh mamaknai kemajuan pembangunan hanya dari aspek fisik saja, melainkan soal-soal kemasyarakatan juga penting dibenahi. Bahkan kita tidakingin disebut memakai kacamata kuda dalam menggerakkan pembangunan, “kata dia.
Selain soal sosial dan budaya masyarakat, terutama mengawasi prilaku anak-anak, Pemko Solok memalui instansi terkait juga menolong kaum petani dari belenggu tekhnologi tepat guna.
“ Petani membutuhkan arahan-arahan yang konstruktif. Disitulah gunanya pelopor. Ya, petani perlu diarahkan untuk mengembangkan budidaya, “ kata Boris lebih menekankan kepada peran organisasi-organisasi petani agar memiliki program-program pertanian yang secara langsung akan mengangkat pengetahuan petani itu sendiri.
Hampir dua jam bercerita di kedai nasi depan Balai kota solok, matahari diluar mulai miring ke Barat. Ketua DPRD Kota solok Yustris Can akhirnya “dilepaskan” oleh pekerja Jurnalistik di kota itu setelah mendapat banyak alasan untuk mengatakan bahwa kepala SKPD di Kota Bareh itu perlu direposisi agar tidak monoton dalam bersikap.****

Mengurai Kosentrasi Kunjungan Pasar Raya Solok

Kemacetan ternyata tidak hanya milik kota-kota besar. Kesemrawutan juga tidak identik dengan kota metropolitan. Kota-kota kecil seperti Solok, misalnya, juga tengah menikmati trend kemacetan. Pemerintah kota setempat, kelihatan seperti kewalahan atau bahkan bisa dikatakan ilang akal untuk mengurai kusut masai kondisi kota yang terkesan terus mengecil akibat pertambahan pengunjung. Suasana kota Solok hari ini, harusnya tidak serumit yang dibayangkan, sama tidak boleh mengatakan gampang untuk mengelolanya.

Kota Solok hari ini, saban sore hingga lepas waktu magrib, arus kendaraaan terus menguasai badan jalan. Sementara kebutuhan masyarakat akan transportasi terus meningkat. Kota Solok telah menunjukkan dirinya sebagai kota salah urus. Salah satu penandanya adalah kemacetan semakin tidak terbendung. Suasana itu semakin basilemak dengan lokasi parkir yang seolah berebut lahan dengan pedagang kaki lima kala sore menjeput kelam.
“ Sepertinya Pemkot Solok tidak bekerja ya? Kalaupun ada aktivitas, kecendrungannya mengikuti pola kerja konventional. Mengerjakan apa yang telah ada saja. Hampir tidak ada inovasi, “ aku Masrizal, salah seorang prantau Solok yang menyempatkan pulang kampung hari raya Idul Fitri tempo hari.

Ungkapan salah urus, tidaklah berlebihan. Sangat realitis, jika dihubungkan dengan sejumlah kesan yang diungkapkan oleh banyak pengunjung. Mereka umumnya menilai kemacetan Solok justru karena pejabat kota yang tidak cerdas dalam pengelolaan manajeman tata ruang kota. Bukan untuk mengungkap borok pemerintah kota, tetapi kenyataan mengatakan perkembangan warna kota tidak beranjak dari tahun ke tahun. Sebagai kota perdagangan, kota Solok mestinya mengusai pusat perbelanjaan di sejumlah titik yang masih memungkinkan untuk dikembangkan. Tidak melulu membangun fasilitas perbelanjaan di sekitar pasar raya Solok.

Tetapi kesan yang ada saat ini, dinamika kota Solok hanya di seputaran pasar Raya. Kalaupun menyebar hanya terlihat disepanjang pertokoan bundo kandung dengan segala persoalannya, termasuk areal parker yang tak berketentuan di pinggir jalan. Suasana seperti ini juga sudah menjadi kebiasaan di ruas Jalan Soekarno Hatta, Ratusan kendaraan terlihat antri hingga akhirnya membeku tiada gerak.

Terhadap desah buruk kota Solok, Wakil Wali Kota setempat Zul Elfian yang sengaja dijumpai di ruang kerjanya, Selasa pekan lalu, mengaku bukan tidak gelisah dengan kondisi seperti itu. Ia bahkan sangt menyadari kota Solok tidak bisa diperbiarkan seperti itu tanpa adanya perbaikan dengan berbagai langkah cerdas.
“Kita senang kota solok berkeembang sebagai bentuk pergerakan perekonomian yang tinggi. Tetapi dibaliknya juga menyimpan kegelisahan terhadap kesemrawutan, “ kata Zul Elfian.

Untuk mengurai kusutnya arus transportasi di jantung kota yang berhimpitan dengan kemacetan lalu lintas, ke depan pihak pemko bakal membuka jalur simpang bioskop raya menuju stasiun keretapi.
“ Dengan alternative perluasan jalan lingkar pusat kota itu diharapkan kesemrawutan akan bergeser lapang, “ tuturnya.
Ditengarai, kesemrawutan kota solok juga dipicu oleh Pertambahan jumlah penduduk. Fenomena itu salah satunya disebabkan oleh faktor teori ada gula ada semut. Ketika gairah ekonomi semakin meningkat, akan memicu orang untuk datang mengadu nasib. Hal ini menimbulkan dampak adanya kepadatan penduduk, yang berimplikasi kepada masalah-masalah pemenuhan kebutuhan.

Menjawab soal wacana penyebaran titik kosentrasi kunjungan pasar sampai ke wilayah terminal Bareh Solok, Wakil walikota Solok yang notabene mantan Aisten II Setdako setempat mengaku tetap terbuka program pengembangan kearah itu. Bahkan untuk mengakali tersumbatnya keramaian di seputar pasar raya, pihak pemo telah mencadangkan lahan seluas 1 hektar untukpengembangan pasar grosir di sebelah terminal bus yang seolah mati suri itu.
“ Kita ke depan memprogramkan pasar grosir di lahan 1 hektar yang telah dicadangkan untuk itu, “ paparnya.
Namun dengan pembangunan pasar grosir saja tentu belum mampu mengurai kusut masai pasar raya Solok yang melahirkan kesemrawutan di sepanjang pertokoan Bundo Kandung. Kondisi tak berketentuan itu juga dapat dirasakan di sepanjang jalan Soekarno hingga ke simpang denpal, sama kusutnya dengan jalur transpormasi arah ke air mati dan atau ke ruas Pandann ujung.
Kepadatan lalu lintas itu semakin mengkrital pada setiap bulan ramadhan danpuncaknya terjadi saat lebaran tiba. Suasana jantung kota Solok benar-benar berada di titik jenuh kemacetan.

Dalam suasana seperti itu, sangat kuat argumentasinya kalau kemudian ada yang menyebut aparat Pemko Solok seolah tidak bekerja. Pejabat Pemko Solok bahkan seperti gembira melihat kota yang penuh sesak dan seolah hanya ingin menyebut bahwa kota Solok benar-benar telah maju pesat.
Seyogyanya, dalam memaknai refleksi 1 tahun kepemerintahaan Wali Kota-Wakil Walikota Periode 2010-2015, Pemko Solok telah mulai memikirkan bagaimana mengurai kosentrasi kunjungan pasar raya kewilayah Terminal Bareh Solok dengan cara membenahi segitiga jalan protokol antara Pandai Air Mati ke Simpang Lampur Merah By Paas Simpang Rumbio – Simpang Pandan Ujung dan kembali ke jalan depan Bioskop Karia.
Dengan kebijakan membenahi jalan dimaksud menjadi ruas dua jalur, yang dikuatkan dengan penataan tata ruang wilayah, kelak diyakini dengan asendirinya para pedagang akan menyebar dan dengan sendirinya arus kunjungan konsumen juga akan terpecah dan tidak lagi terpusat di sekitar pasar raya Solok. Tapi kalaupun gagasan ini dianggap sebuah keniscayaan, setidaknya kita telah berpikir untuk perubahan kota Solok ke depan.

07 Maret 2011


Kab.Solok Inginkan Tour De Singkarak Setara  Tour De Langkawi

Solok--Pemerintah Kabupaten Ssolok benar-benar ingin mengambil manfaat  ganda dari penyelenggaraan balap sepeda Internasional Tour de Singkarak  yang dijadwalkan berlangsung  tanggal 6 sampai 12 Juni 2011. Selain untukmenggairahkan dunia pariwisata dan olahraga balap sepeda sekaligus, paling tidak ajang olahraga bernuansa wisata itu dapat mengangkat daerah penghasil beras yang juga dikenal sebagai bumi markisa itu ke dunia International.
“ Ini ajang promosi yang sangat besar, rugi kita kalau tidak memanfaatkannya dengan maksimal. Karena itu, kita tidak ingin lagi menyambut acara Tour De Singkarak seperti yang sudah-sudah, yang kesannya hanya sekedar mambayie hutang, atau sebatas menjalankan agenda pemerintah pusat, “ kata Bupati Solok Syamsu Rahim ketika membuka rapat pembentukan panitia lokal yang di inisiasi oleh dinas pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten solok, Senin (7/3) di Arosuka.

Syamsu Rahim sampai begitu galigaman terhadap ajang balap sepeda itu lantaran melihat kenyataan bahwa Malaysia terkenal justru karena lebih oleh faktor promosi balap sepeda Tour De Langkawi. Atas pengalaman negeri Jiran itu, ketika Pemerintah Pusat telah menjadikan Tour De Singkarak sebagai kalender kegiatan kepariwisataan Indonedia, mestinya Kabuoaten solok bisa memaksimalkan promosi wisata dan segala keunggulan daerah ini.

“ Untukmencapai semua itu, kita ingin memformulasikan ivent balapsepeda Tour De Singkarak dengan kegiatan Festival Danau Kembar,” tutur Syamsu Rahim.
Inspirasi menjadikan Festival Danau Kembar untuk keramaian alek menyusul pembicaraan Bupati Solok syamsu Rahim di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta. Bersama Kepala dinas Pariwisata Kabupaten Solok Drs. Jasman, MM, sebut Syamsu Rahim, pihaknya bahkan menjanjaikan bonus khusus untuk pemenang Tour De Singkarak.
“ Kita telah menjajanjikan pemberian bonus untuk para juara balap, “ kata Bupati Solok.

Syamsu Rahim menyebutkan, dari hasil pertemuan di Kemenbudpar di Jakarta, kegiatan balap sepeda Tour De Singkarak bakal dikembangkan menjadi 7 Etape dan melalui 12 daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Khsusus etape terakhir, kosentrasi pembalab akan berada diwilayah Kabupaten Solok.

“ Kita maunya Tour de Singkarak setaraf dengan Tour De Langkawi di Malaysia. Salah satu syarat untuk itu harus melewati jalur balap sepanjang 2000 KM. Karena alasan itu, untuk Kabupaten Solok telah disepakati penambahan route dan serta finisnya dua kali, di Singkarak dan finish di Convention Hall Danau Diatas, “ papar Syamsu Rahim penuh optimistis.

Menyikapi pertambahan route itu, Bupati Solok selain mengharapkan pembentukan panitia lokal yang permanent, termasuk persiapan penyelenggaraan Festival Danau Kembar, pihak Dinas Pariwisata kabupaten Solok serta merta diinstruksikan melakukan survey jalan yang akan dilalui pembalab bersama instansi terkait, seperti Dinas PU, Polres dan Dinas Perhubungan Kabuapten Solok.
“ Jalur baru yang akan dileawati adalah wilayah Kapuak Sumani, terus ke Aripan, Laing, Panyakalan, terus ke Kubang Duo dan berakhir di Konvention Hall. Itu semua perlu persiapan matang, “ kata Bupati Solok.

Pembentukan Panitia Tour De Singkarak tingkat kabupaten solok itu  Dandim 0309 Solok, Asisten II H. Yunasman, SE, M.Si, Kepala Dinas Perhubungan Edisar SH, M,MH,  jajaran Kepolsian Kabupaten dan Kota Solok serta sejumlah kepala SKPD, Camat dan sejumlah organisasi Kepemudaan.

Menyambung harapan Bupati Solok, Kepala dinas Pariwisata Kabupaten solok Drs. Jasman MM meyakini ajang balap sepeda Internasional akan memberi pengaruh besar terhadap dunia kepariwsataan di Kabupaten Solok.Terlebih adanya komitmen untuk mensinergikan iven tersebut dengan festival danau kembar, semua keunggulan daerah Kabupaten Solok akan dikenal ke manca negara.
“ Kita harus menampilkan apa yang menjadi keunggulan daerah ini, seperti halnya Pariaman yang bakal mempersebahkan oyak Tabuik, serta Batu Sangkar dengan tradisi makannan Tradisional, “ papar Jasman ketika memimpin pembentukan Panitia Tour De Singkarak*****

14 Februari 2011


Kabupaten Solok Bakal Dapat Program PNPM Bidang Pariwisata

Untuk pertama kali dalam sejarah kepariwisataan, kabupaten Solok tahun 2011 ini dipastikan bakal menerima dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Bidang Pariwisata dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia .
“ Alhamdulillah, berkat komunikasi yang kita kembangkan di Jakarta dan memberikan informasi tentang potensi kepariwisataan Kabupaten Solok, kita bakal dialokasikan dana PNPM Mandiri Bidang Pariwisata tahun 2011 ini, “ kata Drs, Jasman, MM, kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok di ruang kerjanya, Jum’at (11/2).

Disebutkan Jasman, Program tersebut efektif untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya masyarakat yang berada di lingkungan objek wisata. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata itu sendiri  dimotori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar).
"Program PNPM Mandiri ini tentulah dalam usaha meningkatkan potensi bidang kepariwisataan, khususnya peningkatan sumber daya manusia (SDM). Kita berharap program ini serta merta akan menggugah kesa-daran pariwisata rakyat,” sebut Jasman.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok itu menyebutkan daerah penghasil beras itu memiliki banyak objek wisata potensial. Tidak hanya kekayaan alam dengan panorama danaunya yang mengyejukkan, potensi wusata sejarah dan budaya merupakan harmonisasi keindahan yang menyediakan banyak pilihan.
Dengan potensi tersebut, PNPM Mandiri Bidang Pariwisata dialokasikan kepada kelompok kerja yang dinilai cukup kreatif mengembangkan potensi SDM kelompok mereka, dalam bidang usaha dan peningkatan kepariwisataan.

“ Untuk tahun 2011 ini, nagari yang mendapat prioritas menerima bantuan ini adalah nagari Batu Bajanjang, kecamatan Lembang Jaya, “ ulas Kadis Pariwisata dan kebudayaan Kab. Solok itu sumringah.
Bukan sesuatu yang mewngherankan kalau nagari Batu Bajanjang mendapatkan dana PNPM Bidang Pariwisata. Nagari yang berada di kaki gunung Talang tersebut sejatinya juga menyimpan objek wisata alam dan pergunungan yang menakjubkan. Bahkan ketika pengunjung wisata hendak melakukan kegiatan pendakian gunung Talang, justru pintu masuk sebelum naik  gunung Talang itu justru dari kawasan nagari Batu bajanjang tewrsebut.

Belum tahu benar nilai nominal yang akan diterima oleh Kabupaten Solok, tetapi menurut Jasman, PNPM ini sendiri diyakini cukup membantu untuk menunjang kepariwisataan dan peningkatan SDM kelompok usaha mandiri masyarakat yang seharusnya terus berkembang.

Kelak, disamping pendampingan dilakukan oleh fasilitator yang telah ditenjuk langsung untuk pengembangan PNPM Mandiri Bidang Pariwisata itu, pihaknya sendiri akan rutin melakukan pengawasan dan pembinaan kepada kelompok-kelompok penerima bantuan .

“ Kabupaten Solok baru tahun 2011 ini menerima bantuan PNPM Mandiri Bidang Pariwisata dank arena itu harus kita jaga agar mencapai sasaran. Bantuan ini sejatinya amanah dan tentunya masyarakat dihimbau agar mampu memanfaatkan am,anah ini supaya nanti lebih dipercaya menjalankan program-program serupa, “ tambah Jasman menyudahi.***

06 Februari 2011


Dari Kunker Komisi A DPRD
BLUD-DBUM Payakumbuh Hebat

AROSUKA-Kunjungan kerja (Kunker) Komisi A DPRD Kabupaten Solok ke Kota Payakumbuh, Jumat (28/1) lalu, sepakat meniru gaya pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Dana Bergulir Usaha Mikro (DBUM) kota tersebut. Rombongan Komisi A DPRD menyatakan salut akan pengelolaan dan manajemen yang transparansi serta tidak banyak prosedur. Cukup agunan, pelaku ekonomi sebagai pemanfaat dana bergulir langsung membawa uang pinjaman guna memajukan berbagai usaha mikro untuk dikembangkan warga kota itu.

"Hebatnya pengelolaan dan prosedur y
ang tidak berbelit patut kita tiru dan diterapkan di daerah kita. Apalagi, manajemen terbuka bagi siapa pun pantas membuat BLUD dana bergulir maju pesat," kata Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Solok, Patris Chan, SH didampingi Ahmadrius, SH, seusai pertemuan dengan pengurus dan pembina BLUD-DBUM Payakumbuh.

Dikatakan, sektor industri yang terbuka luas di kota ini merupakan perbedaan mencolok dengan Kabupaten Solok. Sulitnya infrastruktur dan akses di nagari berjuluk markisa, berbanding terbalik dengan Kota Payakumbuh. Terlebih lagi, kota batiah, begitu julukan Kota Payakumbuh, usaha ekonomi mikro menjadi usaha primadona bak cendawan tumbuh sehabis hujan. Ini merupakan kelebihan daerah sendiri yang membedakannya dengan Kabupaten Solok. Meski begitu, kebijakan Pemko Payakumbuh dalam memajukan usaha mikro dan pelaku usaha kecil tidak salah untuk ditiru.

"Kebijakannya yang kita contoh, kenapa tidak," timpal Ahmadrius yang diamini Drs. Rusli Intan Sati.
Seperti dikemukakan Pengelola BLUD-DBUM Payakumbuh, Hendri Refdinal SE, sektor industri dan perdagangan merupakan serapan terbesar dalam menyerap dana bergulir yang disalurkan lembaganya. Hingga  Desember lalu, sudah ada 939 pelaku ekonomi mikro yang terlayani. Dimana jumlah pinjamannya mencapai  Rp9 Miliar lebih dari aset sebesar Rp19 miliar. Pelaku usaha yang menikmati pinjaman tidak saja terdiri dari pelaku pasar seperti pedagang, namun juga petani, peternak dan pelaku ekonomi kecil lainnya.
"Apapun usahanya asal sesuai prosedur kita berikan pinjaman. Paling besar pinjaman digulirkan mencapai Rp50 juta dengan pinjaman terendah Rp5 juta," tutur Hendri menambahkan.

Kemajuan yang dicapai BLUD-DBUM pantas diberi apresiasi. Karyawan kontrak yang ditunjang sarana dan fasilitas kerja, senantiasa memberikan layanan murah senyum kepada setiap peminjam. Boroh boleh terdiri dari sertifikat, BPKB dan agunan lainnya. Setiap peminjam, wajib mengikuti kriteria dan prosedur yang telah ditetapkan. Hebatnya lagi, peminjam sebelum menerima pinjaman dilakukan survei terlebih dahulu. Petugas survei berhak memberikan keputusan terhadap layak atau tidaknya diberikan pinjaman.

"Ada karyawan kontrak dan PNS. Semuanya bertugas sesuai dengan job masing-masing," imbuh Hendri lagi.
BLUD-DBUM Kota Payakumbuh tidak besar dengan sendirinya. Penambahan modal dilakukan berbagai instansi terkait. Misalnya, bila ada dana bergulir dari pemerintah, tapi dana itu standby di Dinas Peternakan, Peternakan dan instansi lainnya, maka dana tersebut dikucurkan ke BLUD-DBUM. Tujuannya lembaga semakin banyak cadangan modal. Upaya satu pintu dalam pengelolaan ini menjadi kiat bagi Pemko Payakumbuh guna membesarkan lembaga bergulir tersebut. 
"Nah, cara seperti ini pula patut kita imitasi. Semuanya satu pintu, sehingga dengan sendirinya lembaga makin besar dan maju," timpal anggota komisi lainnya.


Sepanjang tahun 2010, kata Hendri, ratusan pelaku ekonomi dari berbagai sektor sudah dilayani. Pinjaman yang disalurkan bahkan sudah mencapai ratusan juta rupiah. Tiap bulan, menunjukkan adanya peningkatan jumlah peminjam.Tak ayal. harus diterapkan sistem daftar tunggu.

Dijelaskan, dari Rp20 M dana yang beredar, selain sektor indag (industri perdagangan), juga beredar di tangan anggota koperasi sebanyak 3.850 orang, dimana total pinjamannya mencapai Rp6.005.389.645. Selain itu, pada pedagang pasar mencapai 212 pedagang, jumlah pinjaman senilai Rp2,1 M. Untuk sektor peternakan berjumlah 220 orang, dimana total pinjamannya mencapai Rp1,8 M. Kemudian, pada 46 petani beredar uang pinjaman senilai Rp800 juta.

"Kalau masa lalu, waktu krisis moneter, lembaga bergulir ini jadi impian pengusaha kecil," katanya.
Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh, H. Sudirman Rusma menyatakan, BLUD-DBUM adalah lembaga bergulir yang memberikan kemaslahatan bagi warga kota. Betapa tidak, bunga pinjaman yang tergolong rendah menjadi salah satu tingginya peminat warga untuk melakukan peminjaman. Di samping itu, keseriusan pengelola dalam menata manajemen dan kemudahan persyaratan membuat warga lebih memilih BLUD-DBUM.
"Lamanya pengembalian bisa ditentukan peminjam sendiri. Paling lama adalah tiga tahun. Jadi, wajar saja warga berduyun-duyun melakukan peminjaman ke lembaga ini," sebutnya lagi.


Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kabupaten Solok, H. Khairi Yusri menyebutkan, sistem pengelolaan BLUD-DBUM bagus dan terkelola. Sistem ini menjadikan lembaga itu semakin diminati warganya. Sementara, di Kabupaten Solok, masih belum tertata dengan optimal. Sehingga, cara-cara seperti itu perlu dilakukan dan diterapkan. Lebih dari itu, pengelolaan satu pintu dan tidak adanya tumpang tindih menjadikan lembaga semakin besar dan maju. Apalagi, keberadaan kantor milik sendiri dan terpisah dari kantor pemerintah menunjukkan pelayanan benar-benar baik.
"Artinya, kemajuan itulah yang akan kita serap," tukuk Khairi menyudahi-Yasrizal-

29 Januari 2011


Pesona Danau Singkarak Pukau Turis Exxon Mobile

Keindahan alam Kabupaten Solok memang mempesona. Hal itu sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Buktinya setelah mampu menyedot kekaguman sekitar seratusan orang  turis Amerika yang diangkut kapal pesiar Odessey,  kini giliran rombongan turis dari Exxon Mobile berikut sejumlah pejabat dan staf kedutaan Amerika Serikat di Jakarta dipukau oleh  keindahan dan pesona Danau Singkarak.

Kehadiran rombongan pelancong dari Exxon Mobile itu di sambut di rumah gadang kaum Datuk Malelo Rajo di Nagari Paninggahan, Rabu (27/1). Praktis Rumah gadang  mantan anggota MPR RI, Mukhtar Bina Datuk Malelo Rajo yang penuh berukiran khas Minangkabau dan berdiri anggun di pinggir Danau Singkarak sebelah Selatan  ini juga mengundang decak kagum seluruh rombongan.

Terhadap kesan para turis itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, Drs. Jasman usai menerima rombongan mangaku puas karena telah mampu memperlihatkan segala keunikaan dan pesona alami. Dari fenomena itu Jasman bahkan mengaku bahkan momentum itu merupakan era kebangkitan kepariwisataan Kabupaten Solok.
“ Dengan menfasilitasi kunjungan sejumlah turis mancanegara ini, diharapkan wisata Kabupaten Solok dapat lebih dikenal ke dunia internasional, “ aku Jasman.

Ia sekaligus menyatakan komitmennya untuk mengupayakan terus  kunjungan wisata dari luar negeri sebagai upaya mempromosikan objek-objek wisata Kabupaten Solok di mancanegara. “ Dengan merasakan kenyamanan dan kepuasan di Kabupaten Solok, tentunya suasana ituakan mereka perbincangkan di negara asalnya dan secara tidak langsung mereka ikut mempromosikan potensi wisata Kabupaten Solok dengan segala aktivitas budayanya yang khas, “ ujarnya.

Dikatakan, Kabupaten Solok menyimpan sejumlah objek wisata yang unik dan beragam, mulai dari wisata agro, wisata olahraga, agama, adat dan seni budaya, serta wisata alam yang luarbiasa besar. Kesemuanya itu masih alami. “Saat ini ada kejenuhan sejumlah wisatawan terhadap wisata-wisata yang pada umumnya ada disejumlah wilayah, seperti pantai dan wisata modern. Kecenderungan saat ini adalah wisata budaya dan alam yang natural, dan hal itu tersimpan di Kabupaten Solok”, kata Jasman menyudahi.-

Bantuan Diserahkan, Ny. Hj.Erlinda Syamsu Rahim Resmikan Posdaya Lembang Jaya


Lembang Jaya--Bersamaan diresmikannya pencanangan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Kecamatan Lembang Jaya di Jorong Rawang Abu Nagari Koto Laweh, oleh ketua TP-PKK Kabupaten Solok Ny. Hj, Erlinda Syamsu Rahim, Selasa (25/1), Bupati setempat Syamsu Rahim sekaligus menyerahkan bantuan modal usaha sebesar 100 juta rupiah guna menguatkan Desa Mandiri Pangan (Demapan) Jorong Rawang Abu Nagari Koto Laweh.

Menyertai penyerahan bantuan tersebut, Syamsu Rahim memmotivasi masyarakat untuk memaksimalkan penggunaan Bantuan Sosial untuk encpai kemandirian.

Dijelaskan Bupati Solok, hakiki kemandirian yang akan diwujudkan bukanlah semata-mata mendorong masyarakat untuk memproduksi dalam skala besar. Namun bagaimana masyarakat diberdayakan untuk mencari dan membuat komoditi pangan alternatif. Sehingga apabila terjadi kelangkaan beras seperti saat ini, masyarakat tidak selalu tergantung kepada beras, tapi mampu mengolah bahan-bahan pangan alternatif lainnya.

Selain itu, imbuh Syamsu Rahim, masyarakat bersama lembaga-lembaga yang ada harus pula mampu menguatkan kepatuhannya terhadap komitmen yang dibuat. Karena tanpa itu, maka apapun program pemerintah tidak akan mampu berkembang di tengah-tengah masyarakat. "Selama ini masyarakat selalu menilai bantuan pemerintah ini sebagai hibah dan bantuan langsung lainnya. Akibatnya bantuan itu jangankan berkembang, tapi malah semakin berkurang nilainya. Sehingga tidak dapat digulirkan ke masyarakat yang lain", ujar Syamsu Rahim.

Karena alasan itu, bupati serta merta menghimbau masyarakat agar merubah paradigma berfikir  dari pemenuhan kebutuhan sesaat menjadi usaha pembangunan usaha yang berkelanjutan.
Sekaitan dengan pencangan Posdaya Masyarakat, Ketua TP PKK Kabupaten Solok, Erlinda Syamsu Rahim, S.Sos Erlinda berharap supaya Posdaya di Kecamatan Lembang Jaya  mampu menaungi dan memfasilitasi berbagai lembaga sosial yang ada di nagari, seperti PKK, posyandu, kelompok dasawisma dan organisasi perempuan lainnya.

Hal itu ditenkankan lantaran pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas penduduk dapat menimbulkan kemiskinan dan akan menjadi beban bagi keberhasilan pembangunan. Karena itu, kata Erlinda, program Posdaya merupakan salah satu alternatif upaya penguatan fungsi keluarga secara terpadu.
“ Kepada pengelola Posdaya Nagari dan Kecamatan Lembang Jaya umumnya, diharapkan bisa membangun kemitraan dan silaturahmi dengan segenap lembaga di masyarakat nagari,” anjurnya..

Pada kesempatan tersebut, Bupati Solok sekaligus mencanangkan Desa Mandiri Pangan (Demapan) Jorong Rawang Abu Nagari Koto Laweh melalui kelompok Tunas Linjuang. Dikosentrasikannya Jorong Rawang Abu, kecamatan Lembang Jaya sebagai Demapan, menurut Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Solok, Netti Azhar, lebih disebabkan atas kenyataan data kerawanan pangan di Kabupaten Solok, Kecamatan Lembang Jaya merupakan salah satu wilayah yang terindikasi rawan pangan. Karena itu, melalui program pemerintah pusat ini, pemerintah daerah menetapkan Kecamatan Lembang Jaya sebagai penerima program Demapan 2010 yang realisasinya tahun 2011 ini. Dikatakan, kepada kelompok akan diserahkan bantuan modal usaha sebesar 100 juta rupiah.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Barat yag diwakili Mihdad Hurya, menguatkan, sejak diluncurkan tahun 2006 lalu, Kabupaten Solok telah menerima 7 kali program Demapan. Selama kurun waktu lima tahun ini, Kabupaten Solok telah menerima bantuan sosial Demapan sebesar 700 ratus juta.
 Mihdad Hurya menyebutkan, sesuai proposal yang disampaikan, kelompok penerima Bantuan Sosial Demapan ini akan melakukan usaha-usaha peternakan, perikanan dan perdagangan, karenanya, Mihdad mengharapkan fasilitasi dan dorongan pihak-pihak/instansi terkait untuk memberdayakan kelompok ini. Sehingga pada akhirnya kemandirian kelompok khususnya dan masyarakat umumnya akan dapat terwujud.-

24 Januari 2011

Kendati Kunjungan Menurun,
Syamsu Rahim Optimis RSUD Arosuka Berkembang Baik

AROSUKA-Kendati tingkat kunjungan cnderung menurun, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagai icon pembangunan bidang kesehatan di Kabupaten Solok masih menyimpan optimisme. Setidaknya aura optimistis itu terucap oleh Bupati Solok Syamsu Rahim saat melakukan kunjungan dan audiens dengan jajaran praktisi kesehatan itu, Seni (24/1) di Arosuka.

Syamsu Rahim menyebutkan, rumah sakit ini akan mampu berkembang dan bersaing dengan rumah sakit lainnya dengan cacatan semua komponen terutama pengelola rumah sakit memiliki komitmen untuk mewujudkan visi rumah sakit, menjadi rumah sakit pilihan masyarakat Kabupaten Solok dengan mutu pelayanan tinggi dan beretika pada 2014

”Apapun akan dapat diraih dengan baik apabila itu dilakukan dengan komitmen yang tinggi Utamakan membangun hubungan kemanusiaan yang berkualitas, baik dalam hubungan dan komunikasi antar sesama petugas medis maupun dalam menciptakan layanan yang sebaik-baiknya kepada pasien,” kata Syamsu Rahim saat melakukan dialog terbuka dengan direktur dan seluruh jajaran tenaga medis RSUD Arosuka itu.

Disebutkan, pembangunan infrastrukturRSUD ini akan terus ditingkatkan. Meskipun dengan segala keterbatasan daerah, berbagai upaya akan terus dilakukan untuk menjadikan rumah sakit ini lebih baik. Selain peningkatan fasilitas rumah sakit dan perluasan kawasan melalui APBD, tahun ini Kab.Solok memperoleh dana DAK pengadaan alat-alat medis sebesar 10 miliar melalui  APBN.

Syamsu Rahim menyadari berbagai hambatan dan tantangan pengembangan rumah sakit, terutama dalam upaya menjadikan rumah sakit pilihan masyarakat Kabupaten Solok belum dapat diwujudkan. Hal ini terlihat dari penurunan tingkat kunjungan rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit yang baru saja memperoleh klasifikasi type C ini pada tahun 2010 lalu.
Namun demikian Bupati Solok meminta seluruh jajaran RSUD Arosuka meningkatkan layanan kepada masyarakat yang berkunjung serta menciptakan inovasi dan inisiasi untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.
Menyoal tentang minimnya akses ke rumah sakit, seperti yang disampaikan mantan pimpinan Rumah Sakit Tentara Solok, dr. Nursal, Syamsu Rahim meminta untuk dirancang sebuah mobil jemputan pasein dan bekerjasama dengan puskesmas-puskesmas yang ada.

Sementara itu, Direktur RSUD Arosuka, dr. Fitra Yeni Rivai membenarkan terjadi penurunan tingkat kunjungan berobat ke RSUD Arosuka tahun 2010 dibanding tahun 2009 lalu. Khusus untuk rawat jalan, kata dia, tahun 2009 berjumlah 7872 pasien, sementara tahun 2010 sebanyak 5902 orang pasien.

Kendala yang dihadapi karena masih banyaknya sarana dan prasarana medis yang dibutuhkan untuk kelengkapan persyaratan sebagai rumah sakit type C. RSUD Arosuka baru mendapatkan DAK tahun 2011 ini sedangkan untuk kelanjutan pembangunan rumah sakit ini sangat membutuhkan dukungan biaya yang besar.

Fitra Yeni Rivai menurutkan RSUD Arosuka memiliki 186 tenaga medis yang terdiri dari PNS/CPNS 111 orang, kontrak 4 orang dan THL 71 orang. Namun begitu, pihak rumah sakit juga masih kekurangan sejumlah dokter umum dan dokter spesialis, diantaranya spesialis jantung, paru dan syaraf. ”Dari enam orang dokter spesialis yang ada, sebagiannya merupakan dokter referal dari Padang. Dari keterbatasan anggaran daerah, pihak rumah sakit terus juga berharap kepada pemerintah daerah untuk mengupayakan penambahan dokter spesialis ini,” paparnya seraya memastikan upayanya untuk maksimalkan  pelayanan di RSUD Arosuka melalui pembenahan dan promosi yang lebih efektif.--
Masyarakat Paninggahan Sambut Rombongan  Exxon Mobil Amerika Dengan  Prosesi membuat Onde-Onde
 
PANINGGAHAN--Setelah sukses menjamu rombongan kapal pesiar Amerika yag mengangkut seratusan wisatawan mancanegara, Kabupaten Solok kembali  menjadi destinasi wisata bagi turis dari benua Paman Sam. Kehadiran turis dari Exxon Mobile Amerika itu,menurut Kepala  Dinas Pariwisata setempat Drs. jasman, MM berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (26-27/1).
“ Mereka kita bawa ke nagari Panianggahan, Kecamatan Junjung Sirih dan menginap di rumah gadang setempat, “ tutur jasman selepas melakukan rapat persiapan penyambutan Turis Exxon Mobile di kantor wali nagari Paninggahan, Senin (24).
Jasman menyebutkan, pihaknya berusahan semaksimal mungkin menyambut kunjungan-kunjungan wisatawan mancanegara sebagai wahana promosi pariwisata Kabupaten Solok ke dunia luar. Ia menilai kunjungan seperti rombongan kapal pesiar The Odessey tempo hari setidaknya menjadikan budaya dan objek wisata kabupaten Solok memberikan kesan tersendiri bagi pelancong tersebut.
“ Bahkan khabarnya selama dalam perjalanan mereka cenderung membicarakan kekayaan budaya kita. Informasi itu kita peroleh dari juru bicara rombongan turis itu, “ tutur Jasman.
Karena alasan itu, Jasman optimistis kepariwisataan Kabupaten Solok akan berkembang dan dikenal oleh pelancong dari mancanegara.” Selama enam bulan atau setahun ke depan, kita harus mempromosikan potensi wisata Kabuapten Solok, “ tambahnya.
Sebelumnya, rapat persiapan penyambutan rombongan turis Exxon Mobile yang berlangsung di kantor Wali Nagari Paninggahan terlihat antusias. dipimpin Wali Nagari Paninggahan Jasman S.Ag, peserta rapat yang terdiri dari pemuka masyarakat, ketua BMN, Bundo Kandung, Tokoh Pemuda, memberi kesan bahwa nagari Paninggahan siap mempersembahkan kekayaan budaya berikut segala aktivitas dan kultur masyarakat setempat. Rapat persiapan penyambutan turis mancanegara itu juga diikuti oleh Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Solok Erizal, SE, MM.
“ Kita  berupaya menjual kepariwisataan kabupaten solok dari aspek kultur dan budayanya, “ tutur Erzal yang notabene juga ketua KAN Singkarak itu.
Wali Nagari Paninggahan Jasman menyebutkan serangkaian kegiatan masyarakat akan diperkenalkan kepada para turis Exxon Mobile. Mereka selain disuguhkan makanan khas Paninggahaan seperti lapek Bugih, Onde-Onde serta goreng bilih, kepada para pelancong juga akan diperlihatkan proses pembuatan onde-onde itu sendir.
“ Itu pasti menarik, karena mereka pasti bingung melihat ada gula didalam onde-onde. Mereka berpikir dari mana memasukkan gula itu, padahalonde-onde tidak berlobang, “ ujar Wali nagari sambil tersenyum
Atraksi lain yang akan dipersembahkan adalah proses baralek serta kesenian tradisi seperi  tari piring diatas kaca,  menonton beruk mengambilkelapa dan membajak sawah. Pada Kamis pagi hari, selepas sarapan lontong, turis itu juga dibawa ke objek wisata Muaro untuk menyaksikan proses penangkapan ikan bilih yang menjadi keseharian masyarakat setempat.
“ Banyak keuinikan yang akan kita tonjolkan, termausk membawa turis ke mato aie Paninggahan yang menyimpan legenda pula, “ kata Wali Nagari setempat.

22 Januari 2011

Demokrat TIdak Intervensi Penempatan Pejabat

Arosuka--Partai pengusung Demokrat Kabupaten Solok, sebagai partai koalisi dalam pemenangan Bupati Syamsu Rahim - Wakil Bupati Desra Ediwan AT, pada Pilkada lalu, menyatakan tidak akan melakukan intervensi dalam menempatkan pejabat, terutama sekali pengisian organisasi perangkat daerah (OPD) yang dilakukan Januari 2011 ini. Partai lebih memilih dan bersikap menyerahkan sepenuhnya kepada pemimpin daerah itu. "Siapa yang diberi jabatan dan siapa yang duduk dalam OPD nanti, kami dari partai tidak ikutcampur. Sebab, itu merupakan hak prerogatif kepala daerah, sebagai pemimpin daerah," kata Ketua Partai Demokrat Kabupaten Solok, Asrul Tanjung S.Ag., di Arosuka, Rabu (12/1). Menurutnya, partai lebih banyak mengawal pemerintahan bupati dan wakil bupati. Tidak akan melakukan intervensi terlalu jauh, apalagi sampai membawa 'jagoan' untuk menduduki salah satu jabatan pada OPD yang baru saja ditetapkan sebagai Perda. Dikatakan, jabatan adalah amanah. Sehingga, yang patut memperoleh amanah tersebut tentu orang-orang yang kapabilitas, mempunyai dedikasi dan kualitas diri yang baik. Tidak saja itu, juga mempunyai pola pikir dan mental yang sehat guna membangun daerah serta memajukan daerah di masa mendatang."Siapa saja tidak ada soal untuk duduk dalam jabatan tersebut. Baik eselon II, III dan IV. Asalkan, punya kelebihan diri dan cakap sekaligus profesional di bidang. Kabupaten Solok membutuhkan figur pejabat yang berkualitas. Bukan figur asal bapak senang (ABS)," tukuk Asrul. Gonjang ganjing akan dilakukannya mutasi besar-besaran di kantor bupati santer terdengar. Malah, upaya nol kilometer diawali pada Januari. Pejabat yang tidak berkemampuan, siap-siap saja mundur. Dari pada dilengserkan, lebih baik instrospeksi diri. Daerah sangat membutuhkan pejabat yang bisa membawa perubahan bagi Kabupaten Solok untuk masa lima tahun mendatang."Kalau saya berpendapat, pertahankan saja pejabat yang ada itu. Tidak usah makan korban lagi," timpal Hendri Dunant, Anggota Komisi A DPRD itu. Katanya, mempertahankan pejabat yang ada tetap mengukur kinerja pejabat dimaksud. Bila dinilai mampu, kenapa mesti dibuang atau non job. Karena, proses karier seorang pejabat dalam sistem pemerintahan bukanlah semudah membalik telapak tangan. Ada aturan mainnya. Misalnya, mempunyai golongan, pangkat dan berbagai persyaratan lain semisal sertifikat atau jenjang karier bagi seorang PNS. "Kalau bagus, lebih baik dipertahankan. Tak bagus, baru diganti. Tapi, jangan melakukan pergantian lantaran pertimbangan emosi atau kedekatan. Karena, akan berimbas bagi kemajuan daerah. Mau cepat maju, pakailah pejabat yang muda dan enerjik. Tapi, kalau tidak, saya tidak berkomentar lagi lah," sebut politisi yang terkenal kritis itu.

Beras Mahal, Pupuk Payah

Arosuka--Harga beras yang kini terus merangkak naik, disambut gembira sejumlah petani di Kabupaten Solok. Naiknya harga kebutuhan pokok tersebut, otomatis berdampak pula pada produksi dan harga gabah. Sayang, harga gabah naik, sementara perolehan pupuk, khususnya pupuk bersubsidi masih saja tergolong payah dan mencekik harganya. Kini, harga gabah di tingkat petani berkisar Rp7.400 per sukat. "Harga gabah di tingkat petani berkisar antara Rp7.400 sampai Rp9 ribu per sukat. Tergantung jenis berasnya. Kalau beras sokan asli Solok, tergolong mahal," kata Yemrizon, salah seorang petani di Talang, Selasa (11/1). Menurutnya, harga beras yang melambung naik membuat harga gabah naik juga. Ini sudah jelas menjadi hukum ekonomi dan bersifat sementara waktu. Walau, kemarin harga cabai naik pula harganya, sekarang giliran harga beras yang mencekik. Kenaikan harga beras memicu petani untuk turun ke sawah guna memelihara dan mempercepat masa panennya. "Berbicara harga gabah yang menggembirakan itu, kami petani masih juga berharap terutama kepada aparat pemerintahan kabupaten, bagaimana memperoleh pasokan pupuk bersubsidi. Kalau pupuk kurang akan berpengaruh pada produksi dan kualitas padi. Untuk itu, tolonglah kami petani ini," pintanya lagi. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Ir. Darman ketika ditanya menyatakan, harga gabah yang terjadi di daerah itu, masih terbilang normal dan tidak begitu menunjukkan kenaikan harga yang signifikan. Katanya, harga gabah masih belum begitu menguntungkan kepada petani. Sebab, yang terjadi sekarang ini, baru harga beras. Sedangkan, harga gabah tidak terlalu mencolok dalam eskalasi kenaikan harga. Untuk Kabupaten Solok, sambung Darman lagi, ada sekitar 23.361 hektare lahan pertanian. Dengan produksi padi 310.233 ton per tahun. Dari lahan itu, semuanya belum bisa dikatakan sedang masa panen. Karena, masa petani turun ke sawah juga bervariasi dan terkesan tidak serentak.